Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku
Oleh: Wa’u
Hadir di dalam gelap memang selalu
membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan
pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan
terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah
urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada
titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk
didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki
pun enggan melangkah.
Malam adalah kawan bagiku menapaki
setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku.
Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan
mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri.
Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat
kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang
terpaksa membalutkan selimut di sekeliling tubuhku. Aku tak sanggup berontak
pada malam dingin yang kian memaksaku tuk menghempaskan diri di atas kasur saja.
Rasa malas yang timbul dari dalam
diri telah membuatku tertidur pulas dalam kesunyian pikir. Gelap
meninabobokanku yang tak sanggup dalam upayaku sendiri. Cahaya atau bahkan
percikannya pun kadang tak kusadari kehadirannya dalam keenggananku mencari
arah. Jangankan untuk melangkah, kadang dan lebih banyak bahkan otak pikirku
begitu jauh bersemayam dalam posisi cinta dalam diriku sampai-sampai aku pun
tak rela jika ia harus mnderita sakit akibat pikir yang dapat menjeratnya
melakukan circle tak berujung. Cintaku yang dalam itu kian kumanja agar
tak kudapati ia menderita akibat kerjaan serakah dari indra dan naluriku.
Di penghujung tidurku yang pulas,
tak dapat kupungkiri bahwa memang bangkit darinya adalah manusiawi. Tak perlu
mendikteku tentang tidur panjang yang tak lagi dapat Kembali menjajaki indahnya
dunia, sebab hidup dalam kesunyian pikir pun sudah jadi kematian bagiku karena
tak jua kususuri keindahan itu, atau mungkin memang keindahan itu yang tak sudi
menemuiku yang juga sudah mulai resah hampir putus asa menantinya? Entahlah.
Hal yang kudapati hingga saat ini adalah nyenyak tidurku tak dapat bertahan
lama, bangunku kadang menjadi kesadaranku bahwa aku telah lama tak menemui
batas-batas penglihatanku dan juga batas pendengaranku. Kadang pula aku
terbangun sebab utopia mimpi yang kuperoleh dalam nyenyak. Utopia hidup yang
menjadi dambaku itu kadang bergiliran dengan dystopia sosial politik dunia
menghampiriku dalam diamku yang sunyi tanpa pikir atau pun usaha untuk
berpikir. Entah apa, bagaimana dan untuk apa ia menghampiriku jika hanya untuk
memberi harap.
Aku masih keheranan dengan
kehadiran hal-hal yang tak kuharap itu. tapi yang kupahami adalah ia hendak
menyampaikan pesan kepadaku dan karena kecintaanku pada fasilitas dan daya
pikirku aku tak menggunakannya untuk menyimak kehadiran-kehadiran itu. aku tak
yakin bahwa sang pemberi fasilitas pikir ini akan marah padaku, toh pemberian
atau titipannya masih kujaga agar jangan terkotori dengan hal-hal yang tak
kudapati kebahagiaan dan keindahannya itu.
Tapi kenapa mimpi dan hujung dari
kepulasanku tidur itu selalu mengganggu. Apakah ada tugasku yang belum lagi
selesai? Atau pakah masih ada hal lain yang menantiku di belahan dinding ini?
mungkinkah mereka butuh diriku yang berpikir? Atau mungkinkah mereka
menghendakiku untuk mencintai daya dan fasilitas pikirku dengan cara yang
berbeda? Sepertinya aku harus mencaritahunya? Tapi sebenarnya dengan bagini,
aku pun sudah sadar bahwa aku telah mengeluarkan cinta itu dari dalam
kenikmatan persembunyiannya. Tapi apa benar aku berdosa karena mengotorinya dengan
perkara dunia?
Apalah daya guna kesadaran jika
tak mampu aku ubah menjadi realita. Malamku telah membenamkanku dalam
kenyenyakan beserta dengan kesesatan pikir. Kukira aku tidak berpikir, ternyata
dalam pilihanku untuk terbaring acuh dengan dunia pun merupakan hasil buah
pikir yang tak dapat kutangkap alurnya, apalagi untuk membatasi kinerjanya. Aku
hendak menguncinya dalam kamar cintaku tapi bukankah itu juga hasil kompromiku
dengan si pikiran yang ada dalam bagian diriku. Tapi kenapa Kembali tanya yang
muncul. Lalu siapa diriku dan siapa pikiranku. Entitas kami berbeda atau
integrasi antara pikir dan diriku yang menjadikanku ada dan bermakna?
Lagi-lagi malam mengunci aku dan
pikiranku dengan di dalam kamar cinta yang kuncinya ditarik sendiri oleh organ
tubuhku yang lain. Lalu ke mana dan bagaimana aku mampu mengendalikan
pikiranku? Haruskah kucari dan kupahami dahulu sosok pikir atau harus kupahami
dahulu entitas diriku yang berpikir?
Nampaknya aku sudah terlalu jauh
mengotori pikiranku. Lagipula, rasanya dingin sudah merasuk lagi dalam
pertahananku. Kenapa ketika angin malam itu tiba, rasanya tulangku melemah,
mulutku kaku serta kaki tanganku terasa begitu malas untuk digerakan. Posisiku,
aku sedang dalam kesadaran bahwa pikiranku masih berpikir, dan harusnya gerak
tubuhku adalah hasil diskusi dengan bagianku yang berpikir ini. tapi kenapa aku
lalai dalam mengintegrasinya.
Malam-malam yang kulalui juga
bergiliran menyantuni dan membersamaiku dalam waktu lama dan suatu waktu hanya
terasa beberapa saat saja mampu bertahan denganku. Meski begitu, aku sudah
menyinggungnya di atas, cahaya-cahaya yang muncul dari gelapku ini selalu saja
memberi ruang bagiku untuk tetap dalam ketenangan pikir meski mulutku bungkam
untuk berargumentasi. Aku takut ketika suaraku mengganggu sesiapa yang ada di
ruang gelap ini, begitu pun dengan kakiku yang langkahnya enggan menopang
tubuhku keluar dari zona ini.
Sampai kapan kemudian aku hanya
merasakan dan memandangi cahaya-cahaya yang menerobos menembus dinding ini?
haruskah pikir dalam diriku tetap kubiarkan terbelenggu dengan ketakutan
seperti ini? zona nyaman kuharap dapat membawa Bahagia ternyata pelan-pelan
malah menggerogoti diriku sendiri. Aku telah melakukan kesalahan dan tak akan
kubiarkan kesadaranku ini berlalu begitu saja. aku tidak ingin mengalami
gerusan ini kedua kalinya. Pikiranku, aku mohon padamu wahai pencipta pikiran
dan diriku, ampunilah aku jika aku memang salah dalam menggunakan fasilitasmu
tapi yang aku paham adalah harus kugunakan ia sebagai alat agar dapat
kuberanikan diri menjemput sinar cahaya dan mendekati sumbernya, meski
terkadang aku sendiri ragu untuk dapat benar-benar bersama dengan sumbernya
itu. jika memang aku salah karena kugunakan untuk menjawab tantangan yang
mengganggu ketenangan hidupku, hukumlah aku, jangan pikiranku. Akulah yang
memperalatnya untuk mengeluarkanku dari ketidaknyamanan hidupku dalam gelap
kelam malam ini.
Demikian lama dan jauh, malam
menyimpanku dalam sebuah keterkungkungan yang mebuatku lupa pada kesadaranku
akan potensi pikir dalam diriku yang dibantah dan dimanja dengan cara
meninabobokanku agar aku tak dapat memikirkan kesadaranku sendiri, tentang apa
yang bersentuhan dengan penglihatan dan juga pendengaranku.
Beruntunglah bahwa kesadaranku
membawa cinta yang lebih istiqomah menuju kedamaianku daripada sekadar
menjadikan fasilitias pikirku sebagai cinta yang tersembunyi karena
mencintainya dengan cara yang tidak ia sukai hingga menyadarkanku karena
gerakan eksplosi darinya. Diriku telah dimanja oleh kondisi lingkunganku hingga
berimbas pada daya pikirku yang kusalahartikan dengan mencintainya tanpa tahu
kemanfaatannya, hingga akhirnya bahwa keengganan berpikir itu pula yang
membuatku dan nasibku terus terkurung dalam kegelepan tanpa suatu bentuk usaha
keluar menuju cahaya.
Senin, 21/12/2020
Komentar
Posting Komentar