Langsung ke konten utama

terpenjara dalam ekonomi


 TERPENJARA DALAM EKONOMI
oleh: Wa'u

  
Kehidupan manusia memang senantiasa berkembang, tidak ada yang dapat memungkirinya. Sebagai manusia yang menduduki status sebagai petani, nelayan, pegawai negri maupun bangku sekolah serta bangku pemerintahan, semunya ikut berkembang sesuai dengan bentuk perkembangan dan jalannya masing-masing.
Di dalam peragaulan sosial yang terjadi di masyarakat, ditemui banyak sekali perbedaa-perbedaan dalam satu masyarakat, entah itu dalam hal status pendidikan, status sosial maupun dalam hal ekonomi. Namun, jika diperhatikan lebih dalam. Masyarakat-masyarakat ini telah tereduksi ke dalam suatu bentuk masyarakat yang selalu menggantungkan segala sesuatunya terhadap ekonomi.
Di era modern sekarang, kata-kata tidak ada yang gratis di dunia sering kali terdengar dan terlintas di telinga. Dan, hal tersebut memang tidak hanya sekadar ucapan belaka. Ia benar tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.
Tidak ada masyarakat yang tidak menginginkan yang namanya harta benda. Namun, yang perlu diperhatikan kembali adalah bahwa uang/duit bukan segala-galanya dalam hidup ini. Ia hanyalah sebagai alat pelengkap untuk dapat memperoleh kehidupan akibat dari kesepakatan dunia. Karena segalanya telah diperhitungkan berdasarkan pada makhluk yang namanya ekonomi, maka si miski dan si kaya pun akan senantiasa berada pada garis pencarian dan penambahan harta. Akhirnya terciptalah masyarakat yang kapital. Di mana, kata kapital bukan merupakan sesuatu hal yang baru di benak masyarakat karena telah dipropagandakan agar masyarakat tidak terjebak dalam kehidupan masyarakat semacam itu.
Dalam sebuah kajian yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di sekretariat organisasinya. Mereka sempat membahas mengenai konsep-konsep masyarakat semacam ini. Di sana mereka membahas tentang konsep negara kapital-liberalis dan juga sosialis-komunis. Dari hasil diskusi itu, seseorang yang sempat beberapa kali adu argumen dengan pemateri berhasil menyimpulkan materi malam itu. Menurutnya “konsep masyarakat yang seperti ini menurut saya adalah sesuatu yang, hingga kahirnya saya harus mengalah dan setuju dengan pemateri yang mengatakan bahwa konsep tidak dapat diterima oleh masyarakat-masyarakat Indonesia yagn terkenal dengan keramah-tamahannya, terutama juga oleh kelompok Muslim.”
Konsep kapital-liberalis. Dari arti kata saja, sering dimaknai bahwa kapital adalah istilah yang mengandung makna falmiliarnya, yang kaya semakin kaya sedang yang miskin semakin miskin. Dan, kata selanjutnya adalah liberalis yakni pembebasan. Selain itu, disebutkan pula konsep yang kedua adalah konsep sosial-komunis. Yang tujuan utamanya adalah menuntut kesetaran di dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada pengkotak-kotakan dalam suatu masyarakat tertentu, semuanya sama di mata hukum maupun dalam hal ekonomi.
Pada dasasrnya, konsep sosial-komunis digunakan untuk menghancurkan konsep kapital-liberalis. Ketidaksesuaian kapital dengan banyak indvidu masyarakat dunia mengakibatakan adanya pemberontakan dan tuntutan keras. Masyarakat-masyarakat yang menganut konsep sosial-komunis ini menginginkan kesetaraan dalam perekonomian, khususnya. Mereka tidak menyukai adanya perbedaan yang begitu mencolok antara pemilik modal dengan buruhnya. Sebagaimana yang tergambar pada era feodalisme abad pertengahan.
Kedua konsep yang tertulis di atas, sama-sama berakar pada filsafat ekonomi. Jadi, baik kapital-liberalis maupun sosialis-komunis akan stag pada waktu tertentu sebagai akibat dari tidka berjalannya lagi cara hidup masyarakat sosial sebagaiaman seharusnya dilakukan oleh setiap individu sebagai makhluk sosial. Bayangkan ketika para kaum buruh telah berhasil menududukkan para kaum kapitalis. Karena hanya berpatokan pada aspek ekonomi semata. Pada akhirnya, merekea pun akan ikut terjerumus dalam praktek eknomi kapitalis karena tidak ada lagi yang akan mereka pebuat dalam masyarakatnya. Dan ini bergerak secara circle.
Kapitalis yang dituntut oleh kaum buruh pun pada suatu waktu tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka kembali pada kesetaraan masyarakat pada ranah ekonomi datar. Kaum buruh pun sedikit bergerak ke atas. Ketika mereka berada di atas, mereka akan kembali diambang kehancuran karena pemberontakan kembali terjadi oleh kaum buruh yang lain yang belum sempat naik tahta pada pemberontakan sebelumnya. Begitu lah perputaran dan peperangan ekonomi terus terjadi.
Dalam masyarakat memang tidak ada yang akan mengaku sebagai pemegang konsep dari kedua konsep tersebut, khususnya di negara-negara yang mengakui dirinya sebagai negara demokrasi dan juga negara agama (negara Islam, misalnya). Namun realita berbicara lain. Tidak ada yang bisa memungkiri ketika realita telah turun tangan dengan bercerita kepada publik. Realita tidak pernah salah. Ia bisa saja tidak sejalan dengan rencana yang matang seribu persen sekalipun.
Perekeonomian masyarakat memang begitu beragamnya. Sumber penghasilan antara satu dengan yang lian pun beda. Dan uniknya manusia adalah mereka senantias menari koloni untuk hidup bersamanya, kebanyakan mencari koloni berdasarkan persamaan-persamaan kebutuhan dan mata pencaharian penghidupan keluarga. Maka tak heran ketika melihat pada pemukiman warga yang mendiami derah pesisir pantai, mayoritas penduduknya pasti bermata pencaharian sebagai nelayan. Begitu pun dengan penduduk yang mendiami daerah pegunungan atau dataran tinggi, mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani.
Begitulah kehidupan manusia. Bahkan dalam hal perekonomian sekalipun tetap membawa unsur-unsur kehidupan sosial berdasarkan persamaan-persamaan yang kelak dapat menjadi ajang untuk dapat saling bergotong royong.
Hutang piutang sebagai bagian dari ekonomi pun tidak dapat terelakan dari masyarakat mana pun. Tapi beda zaman beda kondisi. Kini semakin banyak berdiri semacam perusahaan kecil penjual jasa peminjaman, tentunya—tidak semua—masih banyak disertai dengan sistem riba (bunga) sebagai bentuk pencaharian guna mendapatkan keuntungan.
Jadi, sistem ekonomi yang tertanam dalam masyarakat selalu berkutat pada perputaran yang tiada habisnya. Setelah mendapat posisi yang nyaman di bagian atas, kebanyakan mereka menjadi amnesia. Lupa bahwa mereka pernah di bawah, sehingga tak jarang yang mengabaikan raungan dari orang-orang bawah. Yang terjadi akhirnya adalah kesenjangan sosial dalam hidup bermasyarakat.
Strata sosial pun ditentukan oleh perekenomiannya, bukan lagi pada ilmu yang dimiliki. Ketika pun ilmu seseorang dalam suatu masyarakat itu tinggi, tak jarang ia akan dipertuankan. Padahal esensi daripada ilmu adalah untuk mengayomi, mengajak dan membuat orang lain menjadi cerdas agar tidak mudah diobrak abrik dapurnya oleh orang lain.
Salah satu sistem ekonomi yang ditawarkan adalah yang juga tidak melupakan transendensi tuhan. Karena dengan mengikutsertakan tuhan dalam perniagaan, tidak akan ada terjadi kesenjangan. Setelah selesai dalam urusan perniagaan, orang-orang yang tadi terlibat dalam kegiatan tersebut tidak akan menganggap bahwa urusannya selesai, ia masih ada tanggungan terhadap Rabb-nya. Dan, sebagaimana ajaran dalam agama islam pula, ada sebuah seruan untuk bersedekah. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar untuk membantu perekonomian sesama saudara, seiman dan atau pun sesama manusia.
Sangat penting untuk diingat bahwa ekonomi bukan awal dan bukan pula sebagai tujuan akhir dari kehidupan. Ekonomi yang baik memang diperlukan, tidak lain sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan cara apa? Salah satunya dengan bersedekah kepada yang belum berpunya. Tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah kepada yang Haq, kebenaran yang sebenarnya, yaitu Tuhan.
Ekonomi memang sangat penting, tapi seseorang akan dibuat stres jika hanya memikirkan tentang ekonomi dirinya dan atau keluarga maupun kelompoknya. Tidak akan ada habisnya. keinginan manusia sangat banyak. Ketika menginginkan 100 ribu misalnya, ketika 100 ribu sudah di tangan, maka ia menginginkan yang lebih lagi, 200 ribu misalnya. Dan itu akan terjadi terus menerus, sehingga ada namanya bersyukur. Syukuri apa yang ada dan jangan terlalu lama berkutat dalam nikmat semu dunia perekenomian yang tidak berkesudahan.



Yogyakarta, Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku

  Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku Oleh: Wa’u Hadir di dalam gelap memang selalu membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki pun enggan melangkah. Malam adalah kawan bagiku menapaki setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku. Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri. Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang ...
IPMMY    Sabtu 9 Desember 2017, IPMMY atau singkatan dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta melaksanakan rapat, yaitu sekitar pukul 20:30. Rapat kali ini adalah sebuah rapat lanjutan dari rapat yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu. Rapat IPMMY pada malam minggu ini dihadiri oleh tiga belas orang dari berbagai angkatan. Mulai dari angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, dan juga 2017. Rapat ini dipimpin langsung oleh katua IPMMY, yaitu Muhammad Ikhsan. Meskipun sebenarnya, masa kepemimpinan ataupun periode kepengurusannya bersama dengan teman-teman pengurus yang lain telah berakhir, namun karena belum adanya pergantian atau belum dilaksanakannya MUBES (musyawarah besar) sebagai agenda tahunan untuk melakukan regenerasi kepengurasan, maka untuk pembahasan makrab sampai terlaksananyan makrab pada tahun ini masih tetap dipegang dan diamanatkan kepada pengurus yang lama. Pertama-tama, ketua ikatan pelajar daerah, khususnya daerah Majene, Muhammad Ikhsan sam...

rusak bukan buta

RUSAK BUKAN BERARTI BUTA Oleh: Wa'u    Sudah berderet kasus yang menimpa para aktivis bangsa. Mereka, sejatinya adalah orang-orang yang gandrung akan penegakan keadilan di bumi Indonesia. Merekalah para pengisi kemerdekaan yang dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai orang-orang yang melawan bangsanya sendiri. Bangsa yang dimaksud di sini ialah para penguasa yang penakut untuk mengungkap kasus-kasus sosial kemanusiaan. Tidak dipungkiri bahwa para pengusa adalah para penakut untuk membongkar kejahatan. Mereka takut kepada para oligark di belakangnya. Upaya membongkar kejahatan memang sesuatu hal tampak mudah namun dalam prosesnya membutuhkan keberanian yang tinggi. Ancaman akan segera menghujani ketika ada seseorang yang memiliki semangat keadilan dan mengupayakan pembongkaran kejahatan yang dilaukan elit. Salah satu kejahatan nasional yang sangat merugikan negara adalah korupsi yang dilakukan oleh aparat negara. Sangat disayangkan apabila para penguasa yang pada dasarn...