oleh: Muhammad Iswan
Pada bagian
sebelumnya telah dibahas mengenai ilmu dan juga pengetahuan. Di mana dikatakan
adanya keterlibatan antara indra maupun akal dalam mengelola data dan
menginterpretasi lalu dalam tingkat yang sedikit lebih tinggi yaitu proses
penegmbangan dari analisis data yang diperoleh oleh indra maupun akal itu
senidir.
Nah, ketika data
tersebut telah berhasil diterima oleh diri kita melalui perantara indra dan
juga akal. Lalu ke manakah ilmu itu pergi setelah dikelola oleh akal? Apakah ia
pergi bersama angin lalu tatakala dilisnkan oleh oral atau kah itu menyimpan
arsip bak emas dalam diri manusia? Jika demikian, di manakh ilmu atau
pengetahuan itu tersimpan dan seperti apa ia berdiam diri tanpa diasadari oleh
taunnya?
Bagaimana
dengan kekeliuran indra dan akal?
Untuk memulai dalam
mengemukakan atau melakukan studi kasus maupun kajian mengenai
pertanyaan-pertanyaan aneh di atas. Maka yang perlu kita pahami lebih dahulu
adalah kita harus mampu untuk atau tidak menerima apa yang dikemukakn oleh para
pemikir terdahulu yang meragukan adanya kapasitas manusia untuk memeproleh
suatu ilmu pengetahuan. Dengan begitu dapatlah seseorang masuk lebih jauh untuk
menyelami dunia ilmu yang tak terhingga bagai bintang dalam galaksi di angkasa.
Ketika dikatakan
bahwa adanya keraguan oleh pemikir-pemikir tersebut terhadap kemungkinan
manusia untuk memperoleh suatu pengetahuan, maka hal tersebut terbantahkan
hanyak dengan mengatakan bahwa, bukankah yang digunakan untuk menganalisis data
yang diterima lalu diragukan itu pun berasal dari akal? Lalu, jika yang
digunakan untuk menganilisis sekaligus juga meragukan adanya pengetahuan akibat
seringnya terjadi kekeliruan oleh indra maupun akal itu sendiri, maka dapat
dikatakan bahwa orang tersebut sebenarnya pun mempercayai kebenaran apa yang
disampaikan akal karena dengan akal lah ia membantah dan meragukan ilmu lalu
dengan akal tak terbantahkan oleh dirinya sendiri pun ia mengungkap akan
kebenaran akalnya dalam menginterpretasi keraguan tersebut secara pasti.
Dalam mengungkap
maslah ini memang cukup rumit, namun penulis berusaha untuk memudahkan para
pembaca untuk memahami apa yang terjadi dengan pemikiran para pendahulu
tersebut menggunakan contoh sederhana; ketika seorang siswa SMA melakukan
praktikum di dalam laboratorium kimia, tidak sengaja ia menjatuhkan pena-nya
hingga masuk ke dalam air yang harusnya digunakan untuk membersihkan tangan
usai praktikum. Sejenak ia menatap ke dalam ember kecil tersebut lalu mendapati
kondisi pena-nya yang tampak bengkok. Sontak ia kaget dengan pemandangan yang
sama sekali baru tersebut, lalu ia mengmabil pena tersebut kembali dari dalam
air untuk memastikan keadaan penanya karena dia yakin bahwa selam di
genggamannya tadi, pena tersebut masih lurus tanpa bengkok sedikit pun. Setelah
diangkat ke permukaan, jelas saja bahwa penanya masih lurus utuh. Namun, karena
penasaran, ia kembali memasukan pena tersebut ke dalam ember berisi air
tersebut dan kembali mendapati posisi penanya seperti saat pertama terjatuh
tadi. Akhirnya ia berkesimpula bahwa indranya tidak dapat dipercaya, ia dalam
kebingungan, bagaimana mungkin I bisa mendapati pemandangan yang demikian,
padahal ia masih sangat yakin akan kenormalan dirinya, ia belum lagi gila.
Karena itu, ia menjudge indranya sendiri
dengan mengatakan bahwa indranya tidak dapat dterima apalagi dipercaya setelah
apa yagn dilakukannya, jelas ia telah melakukan kekeliruan dalam menanggapi hal
yang baru saja terjadi pada dirinya. Dengan demikian ia pun memaki akalnya yang
berpikir bahwa akalnya pun sama, tidak dapat diterima setelah salah dalam
melakukan penfasiran ketika menerima data dari indra. Tapi satu yang tidak
disadarinya bahwa saat itu, ia pun tengah mempergunakan akalnya untuk
mengatakan dengan yakin bahwa indra dan akalnya telah melakukan kesalahan. Dari
sini dapatlah disimpulkan dalam kesimpulan yang sebenarnya masih rumit bahwa
meskipun ia menolak indra dan akalnya karena kekekliruan yang dilakukannya,
tetap saja ia mempergunakan akalnya untuk memberi penfsiran dan meragukan hal
yang baru saja disaksikannya itu.
Jadi dapatlah
kiranya dikatakan bahwa meskipun kerap kali indra maupun akal melakukan
kekeliruan, namun itu tidak menjadi sebuah permasalahan besar, mengingat bahwa
tetap jua lah akal menajdi pembanding dalam segala apa yang dipikirkan atau pun
yang terlintas di dalam benak. Dan juga bahwa yang telah diwariskan oleh Tuhan
kepada manusia sebagai ciptaannya yang paling ideal adalah indra dan akal yang
tiada lain adalah untuk memperoleh ilmu pengetahuan guna mendekatkan diri dan
menemukan jalan kembali kepada-Nya. “science
witahout religion is lame, and religion without science is blind” kata
seorang fisikawan terkemuka di abad ke-20, Albert Einstein.
Tentunya statement
tersebut juga dapat menjadi loncatan baru bagi para kaum akademisi untuk
senantiasa meniatkan pencarian dan penggalian ilmu pengetahuan untuk
kepentingan agama guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi kaum sekuler—yang
pada abad pertengahan atau sering pula disebut sebagai abad kegelapan bagi
dunia Eropa—tidak serta merta menerima statement
dari fisikawan tersebut karena pada saat itu memang sangat marak terjadinya
sekularisasi antara agama dengan ilmu pengetahuan. Anggapan mereka adalah bahwa
ilmu pengetahuan adalah ilmu yang menjauhkan diri atau tidak sejalan dengan
ajaran agama.
Tempat
ilmu bersemayam
Usai membicarakan tentang kemungkinan manusia
memperoleh suatu ilmu pengetahuan, maka sekarang kita coba masuk ke ranah lebih
dalam, yaitu tempat pergi atau tempat bersemayamnya ilmu setelah dikelola oleh
akal manusia.
Tentunya bukan
suatu keharusan, namun perlu teman-teman renungkan kembali. Apa benar, jika kita
sudah memperlajari suatu ilmu, maka ia akan bersemayam di dalam alam sadar atau
alam bawah sadar atau bahkan dia pergi begitu saja, hanya sekadar lewat tanpa
menemui tempat persinggahan yang baik di dalam otak, pikiran mausia.
Apa pernah
teman-teman merenungkan ketika dalam suatu obrolan—ini banyak terjadi dalam
diskusi—tiba-tiba pembicaraan merambat ke mana-mana dan teman-teman berbicara
tanpa disadari teman-teman oleh teman-teman sendiri mengenai substansi yang
keluar melalui oral. Tidak banyak memang yang menyadari akan hal ini kecuali
setelah ia berbicara lalu menanyakan pada diri sendiri perihal sumber dari mana
ia memperoleh materi ia disampaikan.
Mengenai bacaan,
saya berpesan kepada suadara-saudara yang masih beralasan tidak mau membaca
suatu bacaan karena tidak ada yang dapat bersarang di otaknya. Saya harap
teman-teman tetap mau melanjutkan bacaan tersebut, karean sepengalaman saya
pribadi dan sudah saya konfirmasi dengan beberapa teman yanglain bahwa akan ada
waktuya, apa yang pernah saudara-saudara baca itu kelaur dengan sendirinya pada
waktu yagn tepat. Yaitu di waktu teman-teman tengah membicarakan sesuatu yang
memang pernah keluar dari mulut dan pernah diolah meski dipikir kurang sempurna
oleh otak teman-teman.
Pada teman tertentu,
ada folder dalam otak yang akan membuka secara otomatis dan mengerucut pada
masalah tersebut ketika dipaksa untuk menuju ke sana. Seseorang yang melakukan
diskusi tidak pernah memikirkan apa-apa saja yang akan mereka sampaikan dalam
forum tersebut, mereka hanya memperluas pintu pikiran untuk memudahkan dalam penyaluran
informasi agar cepat terperangkap masuk ke dalam pikiran, entah singgah di alam
sadar atau langsung menunju dapaur alam bawah sadar.
Pertukaran informasi
yang dimaksud pun tidak hanya berbentuk satu arah, melainkan dua arah, yaitu
informasi dari luar untuk masuk ke dalam benak dan informasi yang sebelumnya
telah pernah diterima dan bersemayam di dalam pikiran tersebut telah siap untuk
melompat keluar untuk menimpali informasi baru bilamana ada kontrakdiksi terhadapnya.
Bisa saja informasi yang sudah lama bersemayam ini memenangkan pertarungan
untuk mempertahankan eksistensi dalam inangnya, namun tidak menutup kemungkinan
pula bahwa informasi yang sama sekali baru masuk itu akan mendapat kemenangan. Peru
digarisbawahi bahwa hal tersebut bukan jadi persoalan karena eksistensi yang
sebenarnya adalah bentuk eksistensi kebenaran. Jika selalu berpatokan pada
pembenaran semata, maka wajar saja ketika Prabowo mengatakan bahwa Indonesia
pada tahun 2030 akan hancur tinggal nama. Karena memang yang diari adalah
pembenaran untuk mempertahankan eksistensi sementara esensinya sendiri ia tidak
peduli.
Sedikit lagi
terkait dengan diskusi. Seharusnya yang menjadi fokus kita adalah diskusi. Kadang
saya berpikir, tujuan dari diskusi kan mencari kebenaran. Hal ini jelas
bersebrangan dengan debat yang menurut saya selalu memaksakan kehendak individu
atau pun golongan tertentu untuk dapat diterima oleh golongan lainnya. Dan,
tujuannya tidak lebih dari sekadar mencari pembenaran dan mempersempit cara
pandang atau hanya berkutat pada satu paradigma saja. Meski begitu, tidak dapat
dipungkiri bahwa kehadiran debat pun sewaktu-waktu dapat terlihat dalam ranah
diskusi. Terlepas dari semua itu, yang terpenting untuk menjawab tantangan
kehidupan sosial masyarakat adalah bagaimana untuk memperoleh suatu informasi
dan diolah secara bersama-sama untuk memperoleh kebenaran, meski kebenaran yang
dicapai hanya berasaskan manfaat atau pun subjektivitas manusia itu sendiri, dan
kebenaran yang asli dan murni hanya pada sumber kebenaran itu sendiri, Tuhan
yang Maha Kuasa.
Kembali pada persoalan
tempat bersemayamnya ilmu. Bahwa dalam suatu diskusi tertentu, kita kadang
tidak menyadari bahwa folder-folder yang membuka secara otomatis itu akan
mengeluarkan banyak informasi yagn tertanam rapih, dan hidup dalam benak ketika
sering ia disebut oleh tuannya. Tapi akan mati jika didiamkan tanpa pernah diberi
nutrisi.
Dalam suatu pembicaraan, folder-folder yang
tadi teah terbuka dan seperti aliran sungai ia akan menghipnotis para pendengarnya
yang telah diucapkan degan oral, mulut. Bukan hanya pendengar yang dihipnotis,
melainkan juga tuannya sendiri. Contoh ketika berbicara mengenai hal-hal yang
berbau politik. Sesungguhnya orang-orang yang tengah duduk dalam suatu forum
tersebut tidak pernah memikirkan secara spesifik mengenai hal-hal apa yang akan
mereka sampaikan dalam diskusi tersbut, yang paling mungkin untuk difikirkan
oleh seseorang sebelum memulai suatu diskusi adalah tema. Namun tema di sini
akan mengembang seiring dengan semakin menghanagatnya diskusi yang tersaji. Dan,
materi tentang tema yang keluar akan semakin mengkerucut sehingga informasi
yang ada sudah ada di dalam otak tadi dapat tersalur dengan baik.
Informasi tersebut
tidak akan kelar mencari folder lain yang pada dasarnya memang tidak memiliki
relevansi terhadapnya. Pengkerucutan informasi tersebut membuat folder yang
utama pun akan semakin mengkerucut menggali informasi, dan jika kekeurangan
akan berharap untuk mendapat tambahan informasi dari luar.
Hal ini sangat
lumrah terjadi. Bahkan seseorang yang demikian pun tidak jarang banyak yang
tidak sadar tetang substnasi pembahasan yang keluar dari mulutnya sendiri. Terkadang
ia bertanya pada lawan bicaranya dan kadang pula bertanya pada diri sendiri
mengenai sumber darimana ia memperoleh informasi yang demikian, yang telah ia
sampaikan beberapa saat yang lalu.
Penyusunan kalimat
yang rapih merupakan manifestasi dari pemahaman dan pendalaman serta pemetaan informasi
yang sangat terstruktur di dalam pikiran. Hal ini bukan berarti bahwa kalimat
rancu adalah manifestasi dari kerancuan folder untuk menyimpan informasi. Bisa jadi
hal tersebut dikarenakan banyak singkronisasi informasi dari berbagai folder
sehingga membingungkan bagian organ tubuh yang lain untuk menyalurkannya pada individu
yang lain.
Pendeknya, seluruh
informasi yang telah diperoleh sebelumnya akan tetap eksis jika diberikan
nutrisi yang tepat dan akan mati jika didiamkan dan tidak disirami dengan
informasi baru atau pun penyaluran informasi yang ada.
Komentar
Posting Komentar