SIKAP TERHADAP KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DI ERA MODERN
Oleh: Muhammad Iswan & Salsabila Fatima Az-Zahra
Dalam perkembangan kehidupan
beragama. Tentunya kita dibenturkan dengan banyak realita yang terjadi, khususnya
pada era modern penuh dengan tantangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang
semakin hari semakin maju dengan pesatnya. Penyebaran informasi pun tak
terbendung. Batas-batas untuk setiap negara terbuka lebar untuk membuka
komunikasi bagi warga dunia.
Berbicara masalah Islam berarti
berbicara mengenai pandangan hidup yang tertuang dalam ajarannya dan diikuti serta ditaati oleh para pemeluknya. Agama semitik yang satu ini dipercaya sebagai
agama terakhir dari rentetan agama semitik yang ada. Ajaran yang dibawa oleh
agama ini untuk kali pertama diajarkan pada era zaman gelapnya orang-orang
Arab. Zaman ini sering disebut sebagai zaman Jahiliyah. Namun, tidak lantas orang-orang yang hidup di Arab pada
saat itu disebut sebagai masyarakat yang tidak tahu apa-apa atau yang sering
disebut sebagai ummat yang ummi.
Sebuah kekeliruan yang nyata apabila
kita menyebut bahwa mereka adalah para penduduk Mekkah yang tidak tahu apa-apa.
Bisa ditilik pada sumber sejarah yang ada untuk membuktikan bahwa mereka memang
bukan masyarakat yang tidak tahu apa-apa.
Mereka disebut ummat yang ummi bukan karena tidak adanya
pengetahuan di sana, melainkan karena moral. Pada zaman pra kedatangan ajaran
agama Islam. Moral kehidupan bangsa Arab memang sangat buruk. Banyak bermain
wanita, marak terjadinya mabuk-mabuk-an dan berbagai hal lain yang ketika
datangnya Islam, hal tersebut menjadi haram.
Pada abad ke-6 itu lah bisa
dikatakan akhir dari kejahiliyaan yang terjadi di tanah Arab. Seorang bernama
Muhammad dari kalangan Quraisy, keturunan Bani Hasyim lahir. Wahyu pertama ia
terima ketika berkontemplasi, suatu kebiasaan yang banyak dilakukan oleh
orang-orang terdahulu. Bukan hanya di Arab, di Jawa, India dan negara-negara
lain pun banyak dilakukan hal tersebut sebagai salah satu cara untuk menghirup
energi yang ada di alam. Muhammad melakukan semedi ini di Gua Hira dan menerima
wahyu untuk pertama kali dengan ayat pembuka. Iqro; bacalah. Yang dijawab oleh beliau, Nabi Muhammad SAW. bahwa
beliau tidak bisa membaca.
Jika dilihat pada ayat tersebut. Hal
ini bisa dikaitkan pula dengan yang namanya perkembangan zaman yang terus
menerus terjadi. Sebagai wahyu pertama. Perintah untuk membaca itu tentunya
bukan diperuntukkan terhadap ayat-ayat selanjutnya yang turun berangsur selama
kurang lebih 22 tahun itu. Perintah membaca ini disampaikan oleh Malaikat
Jibril dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. untuk membaca, memperhatikan,
menganalisis, mencerna dan meneliti hal-hal yang terjadi di alam semesta ini.
Sekarang. Di era modern, alam
semesta pun sudah menjadi objek utama penelitian untuk memperoleh ilmu
pengetahuan yang baru atau pun hanya sekadar pengembangan dari ilmu pengetahuan
yang sudah ada sebelumnya.
Sudah menjadi suatu kewajaran di era
modern untuk lebih banyak mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, adalah sebuah
kesalahan apabila ilmu-ilmu yang ada tersebut disekularisasi oleh para ilmuwan
dari agama-agama yang ada sebagai sebuah petunjuk hidup yang tujuannya sama
sekali selaras dengan tujuan utama ilmu pengetahuan, yaitu kebenaran. Di era
sebelum renaisans, hal tersebut telah dipraktikkan. Hasilnya, orang-orang yang
memiliki keyakinan terhadap suatu agama pun menjadi terbelakang. Sulit untuk
menemukan suatu ilmu karena takut dengan stigma ‘ilmu tidak sejalan dengan
ajaran agama’ stigma ini banyak terjadi di kalangan kristen barat. Tidak heran
jika Eropa pada era itu disebut sebagai zaman kegelapan. Tidak ada pencerahan
dari ilmu pengetahuan sama sekali.
Pada zaman kegelapan di langit Eropa
tersebut. Ajaran-ajaran atau doktrin agama sangatlah kuat dari Gereja. Ajaran
terpusat pada gereja. Karena adanya sekularisasi agama ini lah banyak ilmuwan
yang akhirnya harus gugur di tangan orang-orang gereja yang tidak mengindahkan
adanya penemuan-penemuan baru yang mereka anggap tidak sesuai dengan doktrin
agama mereka.
Hal ini tentu tidak diinginkan
Islam. tidak menginginkan yang namanya sekularisasi agama dengan ilmu
pengetahuan. Sejatinya ilmu pengetahuan adalah untuk mendekatkan diri kepada
sang pencipta. Kepada dzat yang mengadakan semua makhluk semesta dari nur-Nya.
Kenapa disebut mengadakan? Karena kata ciptaan. Hal tersebut terdengar kurang
pas. Jika kita mengatakan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dan juga
makhluk semesta yang lainnya. Maka kita akan dibenturkan pada sebuah pertanyaan
yang apabila dijawab akan melahirkan banyak pertanyaan lain lagi tentang
eksistensi Tuhan[1].
Pertanyaan tersebut dapat berupa; segala sesuatu itu diciptakan berarti ada
bahan-bahan yang digunakan untuk menciptakan. Sedangkan dalam beberapa
literatur yang ada. Sering kita mendengar yang namanya penciptaan dimulai dari
ketiadaan. Hal ini perlu untuk dikaji sebagai bentuk pengasahan otak, pikiran
menghadapi era modern yang sudah memasuki fase ke-empat revolusi industri.
Revolusi industri yang sering disebut dengan istilah Industri 4.0. lalu, dari
manakah semesta dicipta. Dari bahan mana? Otomatis, jika ada bahan yang
digunakan untuk menciptakan semesta ini, maka bahan tersebut pun harus dibentuk
oleh bahan lain sebelum ia sendiri dicipta. Begitu pun sampai pada bahan
selanjutnya. Terus menerus melahirkan pertanyaan hingga pada ranah yang sama
sekali manusia tidak dapat menjangkaunya.
Sejatinya, dzat atau bahan dasar
sebagai kausa prima yang harus diyakini oleh umat beragama adalah dzat Tuhan.
Dzat yang tidak ada cacat dan segala sesuatu bersumber dan disandarkan pada-Nya.
Dalam penjelasan tersebut, maka dipilihlah istilah mengadakan. Tentunya istilah
tersebut tidak final karena ilmu tidak ada yang bersifat final, meski ilmu
tersebut adalah ilmu eksak sekalipun. Istilah ‘mengadakan’ yang digunakan
dengan penjelasannya; Tuhan mengadakan alam semesta tidak berarti Tuhan harus
menciptakan sesuatu terlebih dahulu sebagai bahan pembentuknya. Tidak harus
muncul pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas. Kata mengadakan
sebenarnya memiliki makna hampir sama dengan menciptakan karena esensinya yang
sama-sama berasal dari ketiadaan. Yang membedakan kemudian adalah pada hal
bahan pembentuknya.
Tuhan mengadakan manusia dan atau
pun alam semesta berarti asal dari makhluk-makhluk tersebut berasal dari
nur-Nya. Diambil langsung dari ruh Tuhan. Hal ini pun bukan berarti nur yang
ada pada Tuhan akan berkurang. Kembali pada istilah mengadakan. Tuhan
mengadakan manusia difikir lebih relevan dengan bunyi salah satu ayat yang
sangat familiar di telinga; kun fayakun,
jadilah kau maka jadilah ia. ayat ini memang sangat familiar. Namun oleh
orang-orang pragmatis. Mereka tidak mau mengkaji makna yang terkandung di
dalamnya. Makna yang begitu dahsyat.
Ayat tersebut di atas, saya pikir
kurang relevan dengan istilah menciptakan dengan penjelasan seperti tertulis pada
bagian atas. Istilah mengadakan tetap menjadi pilihan karena sumber dari segala
sesuatu memang haru disandarkan kepada Tuhan. Bukan diadakan oleh bahan-bahan
yang sering disebut sebagai bahan awal yang digunakan untuk menciptakan.
Padahal bahan-bahan tersebut sendiri kita tidak mengetahuinya sehingga tidak
dapat menjelaskannya.
Sekularisasi agama dengan ilmu
pengetahuan pun masih banyak terjadi di era modern. Banyak yang tidak tahu
bahwa zaman keemasan Islam pada dinasti Abbasiyah sebenarnya ditopang oleh ilmu
pengetahuan yang muncul. Orang-orang yang berperan penting terhadap
penemuan-penemuan tersebut tentunya orang-orang yang juga taat beragama. Mereka
hapal Alquran bukan hanya sampai pada tenggorokannya saja, melainkan telah
mendarah daging sehingga dalam melakukan apa pun juga selalu disandarkan pada
ajaran Alquran.
Perlu diingat bahwa ilmu pengetahuan
merupakan salah satu penentu terlahirnya sebuah peradaban. Ilmu lahir sebagai
hasil dari pencarian kebenaran[2].
Kebenaran yang dicari manusia memang tidak pernah final karena kebenaran sejati
hanyalah milik sang sumber kebenaran itu sendiri, Tuhan. Dua penentu lainnya
untuk melahirkan sebuah peradaban baru ialah kebaikan yang nantinya akan
melahirkan moral masyarakat dan yang ketiga adalah keindahan yang banyak
melahirkan seni, termasuk di dalamnya musik dan kesenian lainnya. Lebih lanjut
akan dibahas pada pembahasan di depan.
Ilmuwan-ilmuwan Muslim sudah sadar
bahwa tidak seharusnya umat beragama Islam mensekulerkan ilmu pengetahuan
dengan ajaran agama. Pada wahyu pertama sudah disebutkan suatu perintah untuk
membaca dan menganalisis apa-apa yang ada di alam semesta, tujuannya hanya
satu yaitu untuk menuju kepada kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang tidak
terbantahkan oleh apa pun karena kebenaran tersebut bukan hanya berasal dari
sumber kebenaran, lebih tinggi, kebenaran tersebut ada pada sumber kebenaran
itu sendiri.
Perintah menganalisis dan mengkaji
alam semesta ini pun dilakukan oleh ilmuwan Muslim seperti Al-Farabi, Ibnu Sina
(Avicena) dan Ibnu Rusyd (Averos) serta masih banyak ilmuwan lainnya yang
karya-karyanya masih digunakan hingga sekarang. Kebanyakan karya-karya ilmuwan
ini banyak digunakan pada bidang kimia, kedokteran dan juga matematika.
Kemajuan ilmu pengetahuan yang
terjadi pada zaman ilmuwan-ilmuwan Islam ini memiliki ciri yang sangat berbeda
dengan ilmu pengetahuan modern. Para ilmuwan Muslim menemukan suatu ilmu
pengetahuan adalah untuk mencari kebenaran menuju Allah SWT. Tuhan seluruh
alam. Jadi yang menjadi tujuan utama ilmu pengetahuan dari umat Muslim ini
adalah esensi dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Adapun ilmu-ilmu yang banyak
dipelajari sekarang adalah ilmu hasil pengembangan dari ilmuwan-ilmuwan barat
semasa renaisans. Masa di mana banyak orang berani keluar dari kungkungan
ajaran gereja yang tetap tidak mau menerima penyatuan ajaran Kristen Barat
dengan ilmu pengetahuan yang ada. Ilmuwan-ilmuwan Barat ini lah yang namanya
menjadi tenar. Yang dicari oleh ilmuwan-ilmuwan ini berbeda dengan ilmuwan
Muslim. Eksistensi adalah yang paling utama untuk memanjangkan umurnya. Apabila
yang diutamakan adalah eksistensi ilmu pengetahuan, itu bukan menjadi suatu hal
yang dipermasalhkan. Namun yang menjadi masalah adalah eksistensi yang
dibutuhkan justru eksistensi dari ilmuwannya itu sendiri.
Terlepas dari sejarah ilmu dan
ilmuwan masa lalu. Kita sebagai seorang Muslim yang menganut dan menjalankan
ajaran Agama Islam tidak diseru untuk sekadar membanggakan ilmuwan-ilmuwan yang
ada pada era keemasan Islam tersebut, tapi kita pun diajak untuk selalu
mempergunakan akal fikiran yang sudah dianugrahkan oleh Allah SWT untuk mencari
kebenaran. Dalam salah satu surah dalam Alquran, yang maksudnya adalah; manusia
telah diciptakan dibekali dengan penglihatan dan pendengaran untuk dapat menuai
ilmu pengetahuan dan hasilnya adalah untuk kembali kepada yang Haq.
Akal fikiran, mata dan telinga harus
dipekerjakan selama ia bisa agar diperoleh ilmu yang lebih banyak sebagai bekal
menuju yang Haq. Ilmu sangat luas jangkauannya. Sehingga tidak heran, pada
zaman ini, sekularasisasi atau pembagian ilmu-ilmu pun dilakukan. Tujuannya
adalah untuk lebih menspesifikan suatu ilmu agar mudah dipahami oleh para
pengkajinya. Secara garis besar, ilmu yang kita kenal sebagai salah satu
doktrin yang diberikan sejak SMA adalah ilmu alam (IPA), ilmu sosial (IPS) dan
ilmu agama.
Doktrin tersebut dapat menciderai
cara berfikir dan membuat minder orang-orang yang ada pada fokus ilmu agama.
Mereka yang ada di sini akan selalu merasa tidak pantas bersanding dengan merak
yang ada di IPA, yang menguasai ilmu pengetahuan modern. Yang terjadi adalah
‘merasa’ bukan memikirkan. Karena doktrin yang diajarkan pun memang memiliki
potensi ke aras sana.
Mereka yang ada pada fokus ilmu
agama pun hanya fokus pada hafalan dan pembacaan Alquran dan Hadis. Mereka
bahkan tidak paham dengan ajaran agama yang diinginkan sejak era Islam awal,
yaitu pembacaan ayat-ayat semesta. Sekadar mendengar berita bahwa NASA telah
melakukan perjalanan ke bulan dan peluncuran roket segala macamnya. Mereka
hanya mendengar tanpa ada usaha atau bahkan tidak mau untuk mengkonfirmasi.
Yang terjadi akhirnya adalah penggirangan opini publik oleh penguasa ilmu
pengetahuan.
Islamisasi ilmu pengetahuan adalah
salah satu cara yang sekarang marak dilakukan untuk mempertahankan eksistensi
ajaran Agama Islam. tentunya hal ini masih menuai pertentangan. Ada kalangan
yang masih setia dengan tradisi Islam awal, dan selalu menyeru untuk kembali
kepada Alquran dan Hadis dan menolak sama sekali perkembangan zaman dan
perkembangan ilmu serta teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada disebut
bid’ah atau sesuatu yang baru dan tidak pantas untuk diikuti karena tidak
pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad sebagai panutan oleh umat Islam.
Orang-orang yang memiliki pandangan
seperti ini kebanyakan tidak mau diberi tahu dan terus saja mendakwahkan bid’ah.
Apa-apa dibid’ahkan. Sedikit-sedikit bid’ah. Lalu kapan Islam akan memajukan
peradaban ilmu. Sedangkan Alquran pun multitafsir dengan tujuannya adalah untuk
mendekatkan diri kepada sang pemilik ilmu sejati, Allah SWT. Apakah kita
sebagai umat Muslim akan terus seperti ini? Menolak perkembangan zaman?
Jika yang dikoarkan selalu bid’ah
ketika mendengar adanya perkembangan ilmu pengetahuan, maka umat Muslim akan
terus berada pada garda terbelakang pada setiap peradaban yang muncul, terutama
pada era Indutstri 4.0 hari ini. Yang perlu untuk kembali diingat adalah; ilmu
pengetahuan pun banyak berkembang pada era Islam awal, Dinasti Abbasiyah.
Mereka, para pendahulu dan pembaharu Islam telah berhasil membuka gerbang ilmu
pengetahuan untuk dapat kita nikmati. Ilmu-ilmu yang mereka temukan tidak lepas
dari pengkajian terhadap Alquran dan juga perenungan terhadap ayat-ayat
semesta.
Apabila ada yang menyerukan untuk
kembali kepada Alquran dan hadis. Perlu kita pertanyakan kembali. Maksud dari
kembali kepada Alquran dan Hadis itu apa. Apakah kita pernah meninggalkan
Alquran dan juga Hadis? Atau kita pernah melupakan keduanya? Atau bahkan yang
dimaksud adalah pengkajian terhadap ayat-ayat-Nya dan mengkombinasikannya
dengan ayat-ayat semesta.
Pertanyaan pertama dan kedua itu
tidak masuk akal. Karena umat Muslim, pegangan hidupnya adalah Alquran dan
Hadis sebagai pegangan wajib umat Muslim untuk menuju kepada keselamatan
mencapai ridho Allah SWT. Ketika umat muslim melupakan Alquran dan atau pun
Hadis. Mohon maaf, bisa dibilang dia bukan Muslim. Mungkin di KTP dia muslim
sebagai bentuk eksistensi, namun esensinya sebagai seorang pemeluk agama Islam
tidak ada. Orang beragama Islam tidak akan melupakan syariat. Meskipun
pengkajian terhadap ayat-ayat Alquran kadang menuai pertentangan dan perbedaan
pendapat. Namun ada satu hal yang tidak dapat dipertentangkan oleh umat Muslim,
yakni dalam hal mengerjakan ibadah mahdhah. Ibadah yang hubungannya langsung
kepada Allah SWT.
Islam sejati adalah Islam yang tidak
menolak dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Justru ilmu
pengetahuan ini akan menjadi kendaraan yang dipergunakan untuk menemukan
eksistensi Tuhan di alam semesta. Jika ada umat Muslim yang menolak
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ia adalah orang yang menolak
ajaran agamanya sendiri. Islam telah memberi informasi bahwa ajarannya selalu
relevan dengan semua tempat dan semua zaman. Jika hal ini sudah ditolak, maka
tidak seharusnya agama itu sampai di Indonesia dan menyebar luas ke seluruh
penjuru dunia. Namun, realita yang terjadi adalah, Islam dapat menyebar luas
dengan cepat. Ini menandakan bahwa Islam memang dapat diterima dan relevan
dengan semua tempat dan zaman, termasuk era Industri 4.0.
Islamisasi ilmu pengetahuan pun pada
dasarnya tidak relevan dengan era modern bagi bagi umat Islam apabila kita
memaknai dan mencerna ajaran bahwa Islam selalu relevan dengan tempat; termasuk
keadaan sosial, dan juga waktu. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan
yang semakin marak apabila digunakan istilah ‘islamisasi’ berarti kita
benar-benar pernah melakukan sekularisasi terhadap ilmu pengetahuan dengan
ajaran agama kita sendiri, agam Islam sebagaimana yang pernah dilakukan oleh
orang-orang Kristen Barat sebelum renaisans, yaitu zaman yang disebut sebagai
era kegelapan Eropa yang justru menjadi era kegemilangan umat Islam di era
Dinasti Abbasiyah.
Islam tidak pernah melakukan
sekularisasi terhadap ilmu pengetahuan, sehingga kata-kata atau istilah
islamisasi pun tidak harus dipergunakan. Ilmu terus berkembang da hidup bersama
ruh Islam. jadi, tidak ada sekularisasi di dalamnya sehingga kemudian pun tidak
butuh yang namanya Islamisasi. Yang membutuhkan Islamisasi adalah oknum-oknum.
Orang yang menganut agama Islam yang memang pernah melakukan sekularisasi,
bukan seluruh orang Islam harus melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan.
Alasan utama kenapa tidak ada
Islamisasi adalah karena Islam tidak pernah melakukan sekularisasi ilmu
pengetahuan dengan agama. Apalagi sampai menolak ilmu yang ada jika memang ilmu
tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. hingga era modern seperti
sekarang ini, belum ada ilmu-ilmu alam yang menyalahi hukum-hukum Tuhan. Begitu
pun dengan ilmu sosial. Apa yang pernah dipraktikkan oleh Rasulullah Muhammad
SAW tidak pernah merugikan orang-orang yang mempraktikkan cara hidup sosial
beliau.
Selain alasan tersebut di atas. Yang
paling penting adalah ilmu pengetahuan alam, disebut ilmu pengetahuan alam saja
karena sejatinya ilmu sosial adalah ilmu tentang cara hidup manusia, sedangkan
manusia adalah bagian dari alam, makhluk kosmik. Ilmu pengetahuan adalah juga
sekaligus ilmu agama. Dapat disimpulkan bahwa cakupan ilmu agama sangat luas.
Dengan tujuan utamanya adalah untuk menemukan kebenaran. Ilmu-ilmu yang ditolak
oleh Islam adalah ilmu kesyirikan. Ilmu yang dapat menjauhkan dari kebenaran.
Perkembangan ilmu pengetahuan berarti
juga menandai perkembangan sosial masyarakat. Bagaimana umat Islam dapat hidup
di era modern jika tidak mau mengikuti perkembangan zaman? Jika yang terjadi
adalah demikian, maka tidak akan ada orang yang mau mengikuti ajaran Islam
karena dianggap kolot dan ketinggalan zaman. Lalu dimana esensi Islam sebagai rahamtan lil alamin jika ajarannya harus
terhenti sebelum tiba hari kiamat?
Hal ini perlu untuk sama-sama kita
renungkan. Islam adalah agama damai. Agama yang membawa kedamaian bagi siapa
saja yang ada di sekitarnya. Esensi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam
tidak akan tampak apabila kita terus-terusan menolak perkembangan ilmu
pengetahuan.
Revitalisasi pengajaran terhadap
Islam mungkin perlu dilakukan. Hal ini berbeda ketika kita mengatakan
revitalisasi ajaran Islam. pengajaran terhadap ajaran Islam sangat memerlukan
keahlian dari sang tenaga pengajar untuk menghindarkan cara pengajaran agama
hanya dalam bentuk penghafalan. Tentunya hal tersebut merupakan sesuatu yang
sangat baik untuk dilakukan. Namun, yang perlu untuk kembali diperhatikan
adalah bagaimana kita dapat mencerna dan mengkaji ilmu pengetahuan yang
tersirat di dalam Alquran.
Pembaharuan cara pengajaran terhadap
ajaran agama Islam sangat penting dilakukan untuk dapat melahirkan
ilmuwan-ilmuwan atau cendekiawan Muslim di masa yang akan datang. Pengajaran
terhadap bagaimana konstruksi berpikir ilmuwan-ilmuwan Muslim terdahulu hingga
dapat menemukan suatu ilmu baru yang bermanfaat bagi umat manusia dan masih
relevan dengan dunia modern bahkan hingga akhir zaman nanti dengan berbagai
inovasi yang terus dilakukan oleh ilmuwan yang datang kemudian, seperti Albert
Einstein dan Stephen Hawking pada bidang fisika.
Dengan adanya cara pengajaran yang
baik dalam pengkajian terhadap ilmu agama Islam dan bukan hanya terfokus pada
pengahafalan. Diharapkan akan melahirkan banyak penemuan baru dan cendekiawan
Muslim yang baru sebagai Avicena atau Averos modern. Jika umat Islam masih
selalu saja berkutat pada ranah penghafalan dan tidak mau mengkaji lebih lanjut
terhadap Alquran dan Hadis, maka Islam akan begini-begini saja. Tidak ada
revolusi ilmu pengetahuan yang akan terjadi di dalam tubuh Islam. yang marak
adalah budaya mengahfal tanpa memahami ajaran yang ada di dalamnya dan juga
budaya anak bebek yang terus mengikut tanpa ada usaha untuk menjadi pemimpin
dalam penemuan-penemuan baru. Yang dibutuhkan bukan hanya para calon
cendekiawannya, lebih jauh juga umat Muslimnya.
Salah satu hal yang menjadi
penghambat terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan di dalam Islam adalah
terlalu mudah menjustifikasi dengan sebutan kafir atau minimal ahli bid’ah ketika
ada umat Muslim yang mau berubah dan berkutat pada pengkajian terhadap ayat-ayat
sains dan relevansi ayat Alquran dengan fenomena alam yang terjadi dalam
semesta ini.
Apabila hal tersebut masih tetap
marak terjadi dengan penolakan terhadap perkembangan zaman maka sinar ilmu dari
Islam pun akan semakin memudar dan pada akhirnya akan hilang, musnah dan
tenggelam. Yang dikenang hanyalah Nabi Muhammad dengan Alquran sebagai
mukjizatnya yang tidak lagi memiliki manfaat bagi umat manusia, khususnya umat
Muslim. Juga para cendekiawan Muslim seperti Ibnu Khiatam, Al-Khawarizmi dan
ilmuwan-ilmuwan lain yang sudah memanjangkan umur mereka melalui karya-karya
yang diadopsi oleh orang modern.
Dengan demikian. Tantangan umat
Muslim mengahdapi era modern, khususnya di era Industri 4.0 ini tidak hanya
pada ranah bagaimana untuk emgnembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan tuntunan
Alquran maupun Hadis; yang mengatakan, tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri
China. Melainkan, yang lebih vital adalah pergolakan dalam internal Islam itu
sendiri. Selama masih ada pertentangan terhadap penolakan perkembangan Iptek,
maka selama itu pula umat Islam akan terpuruk, hina di hadapan peradaban modern
dan sangat mungkin bagi pemeluk agama Islam untuk meninggalkan Islam karena
dianggap tidak relevan dengan zaman.
Maraknya ibadah iming-iming pun
sebenarnya menjadi salah satu faktor umat Muslim banyak yang tidak mau
menggunakan akalnya untuk berfikir. Hal ini jelas tidak sesuai dengan perintah
langsung oleh Allah SWT. dalam surat Ali Imran ayat 192 dan disambung pada ayat
193 tentang bagaimana kita harusnya merenungi ciptaan Allah swt dalam semesta
ini. Kita dituntut untuk mepergunakan akal, dan itu bukanlah sebuah hal yang
mesti diperselisihkan karena akan merupakan bonus kehidupan yang diberikan
kepada manusia untuk dapat mencapai kepada kebenaran.
Selebihnya, marilah sama-sama kita
menerima perkembangan ilmu dan juga perkembangan teknologi yang semakin marak
dan menguasai dunia. Tapi jangan sampai terlena olehnya. Kita hanya perlu untuk
turut serta berpartisipasi dalam perkembangan dunia yang semakin maju bukan
untuk sekadar dialiri arus ilmu tanpa dapat mengambil manfaat darinya.
Ilmu pengetahuan alam adalah ilmu
agama. Bisa disaksikan adalah kesesuaian antara ilmu agama dengan ilmu
pengetahuan. Sebagai contoh, pada surah proses penciptaan alam semesta.
Informasi dari Alquran bahwa penciptaan dimulai berpisahnya antara bumi dan langit.
Dulunya Bumi dan Langit adalah satu kesatuan lalu dipisahkan. Pemisahan yang
diawali dengan terjadinya dentuman besar hingga memisahkan antara keduanya.
Dalam salah satu teori yang paten dalam fisika pun demikian. Ada kesesuaian di
sana. Dalam teori fisika tersebut, bahwa penciptaan diawali dengan big bang
atau dentuman besar yang mengakibatkan berpisahnya Bumi dan Langit. Dalam ayat
itu juga disebutkan adanya pengembangan alam semesta. Hal ini pun dibuktikan
oleh sebuah observasi yang dilakukan oleh seorang ilmuwan Amerika yang menemukan
adanya perjalanan bintang yang saling menjauh satu dengan yang lainnya. Ini
mendukung teori yang ada dalam Alquran mengenai pengembangan alam semesta.
Jadi, persiapan menghadapi dan
menjalani kehidupan di era modern bagi umat Muslim harusnya dimulai sejak dini.
Anak-anak dididik untuk tumbuh dan menggeluti bidang yang ia senangi dengan
tujuan utama adalah pencarian kebenaran. Islam bukan agama kolot yang tidak
sesuai dengan perkembangan zaman. Islam adalah agama yang sangat mendukung
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Alquran yang multitafsir ini pun
menjadi salah satu bukti akan luasnya samudra pengetahuan yang perlu dikaji
untuk memperoleh ilmu di dalamnya.
Jadilah cendekiawan Muslim yang
tidak hanya berada pada taraf hafidh atau
pun hafizdhah tapi pada taraf
cendekia yang ahli pada bidang tafsir. Karena dengan tafsir, ilmu akan semakin
banyak untuk dikaji kembali oleh orang-orang yang datang kemudian.
Tantangan terberat Islam menghadapi
era modern adalah orang-orang Islam itu sendiri. Yang masih bersikukuh tidak mau
menerima adanya perkembangan ilmu pengetahuan dengan anggapan bahwa semua sudah
ada di dalam Alquran padahal ia sendiri tidak pernah mengkaji ilmu-ilmu yang
ada dalam Alquran sehingga tidak pernah melihat adanya koherensi antara Alquran
dan ilmu pengetahuan yang marak dibicarakan orang-orang modern.
[1] Disampaikan pemateri kajian dalam
diskusi, Intensif Filsafat di komisariat HMI MPO FIAI UII 20 Desember 2018.
[2] Qurais Syihab ketika ditanya tentang
musik haram tidaknya musik oleh Tantri, vokalis band Kotak.
Komentar
Posting Komentar