Langsung ke konten utama

IPMMY

   Sabtu 9 Desember 2017, IPMMY atau singkatan dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta melaksanakan rapat, yaitu sekitar pukul 20:30. Rapat kali ini adalah sebuah rapat lanjutan dari rapat yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu.

Rapat IPMMY pada malam minggu ini dihadiri oleh tiga belas orang dari berbagai angkatan. Mulai dari angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, dan juga 2017. Rapat ini dipimpin langsung oleh katua IPMMY, yaitu Muhammad Ikhsan. Meskipun sebenarnya, masa kepemimpinan ataupun periode kepengurusannya bersama dengan teman-teman pengurus yang lain telah berakhir, namun karena belum adanya pergantian atau belum dilaksanakannya MUBES (musyawarah besar) sebagai agenda tahunan untuk melakukan regenerasi kepengurasan, maka untuk pembahasan makrab sampai terlaksananyan makrab pada tahun ini masih tetap dipegang dan diamanatkan kepada pengurus yang lama.

Pertama-tama, ketua ikatan pelajar daerah, khususnya daerah Majene, Muhammad Ikhsan sampai harus masuk ke dalam kamar-kamar untuk mencari dan membangunkan anggotanya untuk segera bergegas menuju ruang keluarga atau lebih tepatnya ruang berkumpul guna mengikuti rapat. Rapat dimulai sekitar pukul delapan malam karena menunggu anggota-anggota yang lain yang bersedia mengikuti rapat. Mereka ditunggu di asrama IPMMY, yaitu Asrama Ammana I Pattolawali karena kebanyakan dari anak-anak Majene memilih untuk menyewa kos agar mempermudah akses mereka menuju kampus masing-masing.

Setelah menunggu cukup lama dan sedikitnya respon dari anggota IPMMY, dan ada beberapa orang yang berhalangan untuk datang malam itu, maka rapat pun dimulai dengan diikuti oleh tiga belas orang, yang awalnya hanya diikuti oleh dua belas orang.

Sebelum memulai pembahasn kali ini, Ketua IPMMY memberikan opsi kepada peserta rapat untuk berbicara dan memberikan masukan, bagaimana seharusnya rapat kali ini dimulai? Apakah langsung menuju konsep atau ada semacam pemaparan dari masing-masing divisi terlebih dahulu?.

Akhirnya salah seorang perwakilan dari divisi menjawab pertanyaan ketua tersebut, kemudian mulai memaparkan hal-hal yang sekiranya diperlukan saat berlangsungnya makrab nanti.  Dia adalah Divo, dia menjelaskan tentang apa saja yang diperlukan oleh divisinya. Karena kebetulan Divo adalah bagian pendanaan, maka penjelasan yang disampaikan pun tentang dana dan peta tentang sumber dana, sekiranya ada masukan, sumber dana nantinya dari mana saja. Karena  kebetulan ada banyak alumni dari IPMMY yang sekarang hidupnya terbilang makmur, maka salah satu peta sumber dana saat makrab nanti adalah meminta sumbangan kepada alumni, sumber dana yang kedua adalah meminta sumbangan atau menurut saya lebih afdhal dikatakan iuran, iuran yang dimaskud ialah iuran yang diminta kepada setiap anggota IPMMY, dan sumber dana yang terakhir atau yang ketiga adalah  mengamen, sebenarnya saya sangat tidak setuju dengan peta sumber dana yang ketiga ini, namun sebagai anak baru di ikatan pelajar ini, saya berusaha untuk tetap memilih diam karena belum banyak tahu tentang kehidupan IPMMY sebelum saya datang ke sini, dan belum ada pengalaman makrab dengan anggota-anggota ikatan ini. Saya fikir bahwa jika hasil mengamen itu kita pakai untuk melakukan kegiatan makrab, maka sangat tidak etis, jika difikir-fikir lagi, hasil ngamen adalah hasil minta-minta, sedangkan minta-minta adalah merupakan suatu hal yang tidak wajar dan sedikit menyimpang dari ajaran-ajaran agama, mengingat anggota IPMMY adalah seratus persen pemeluk agama Islam, maka tidak sewajarnya menggunakan hasil minta-minta untuk melakukan kegiatan dengan skala yang cukup besar bagi sebuah organisasi daerah. Lagi-lagi karena alasan masih anak baru, saya tidak ingin menyampaikan hal ini kepada senior-senior saya yang sudah barang tentu telah memiliki banyak pengaman ketimbang saya yang baru sekitar enam lima bulan berada di Yogyakarta ini. Serta juga karena mengingat tidak adanya bantuan sama sekali dari daerah dalam melakukan kegiatan ini. Karena alasan-alasan itu saya memilih untuk tetap diam dan berusaha untuk emngikuti jalannya rapat sebaik dan sebisa mungkin.

Setelah membicarakan dana, kemudian pembahasan dilanjutkan oleh bagian perlengkapan yaitu Ilham dan sesekali dibantu oleh Fadli untuk memaparkan kebutuhan yang diperlukan oleh bagian perlengkapan. Merka mulai menerangkan perlengkapan yang sekiranya diperlukan saat makrab nanti. Alat-alat yang disebutkan ialah sound sistem, microphone, dan kabel. Setelah menjelaskan itu semua, kemudian ketua kembali mengambil alih jalannya acara.

Sekitar beberapa menit ketua IPMMY berbicara di depan kami, akhirnya beliau kembali mengajak kami untuk meyampaikan pendapat masing-masing. Pendapat yang dimaksud adalah untuk penentuan tema. Sekitar 4 menit ruangan itu hening, tak ada suara yang terdengar. Ihwan atau yang dikenal dengan sebutan Tubles mulai memperdengarkan suaranya. Pertama ia menyampaikan pendapatnya untuk penentuan tema dengan tema JEPA, dan subtemanya adalah malepong tassialle, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti lingkaran tak berjarak. Itu jika diartikan secara perkata. Untuk memperkuat tema yang diusulkannya, maka Tubles/Ihwan mrngajak kami semua untuk berfikir, sebenarnya apa makan yang terkandung di dalam kata tersebut. Tak ingin buang-buang waktu, akhirnya Ihwan kembali menjelaskan lebih detail lagi tentang JEPA dan malepong tassialel.

Katanya, JEPA malepong tassialle artinya, IPMMY adalah sebuah lingkaran dan orang-orang di dalamnya tak ada jarak, tak ada kasta. Semuanya bekerja secara gotong royong. Adapun JEPA adalah salah satu makanan yang ada di Sulawesi Barat, khususnya di Majene, bentuknya adalah lingkaran. jadi, intinya adalah bahwa IPMMY merupakan suatu ikatan pelajar yang utuh dengan orang-orang di dalamnya tak ada perbedaan kasta maupun perbedaan dalam bentuk apa pun.
merasa kurang puas dengan pemaparan yang disampaikan oleh Tubles, maka aku mencoba untuk memberikan sedikit masukan tentang konsep tema yang telah disampaikan tadi. aku berpendapat bahwa penggunaan kata JEPA dalam tema ini kurang pas jika mengingat dari pemaparan yang disampaikan oleh Ihwan. aku berpendapat dan mengusulkan untuk mengganti JEPA menjadi ONDE ONDE. tidak ladzim rasanya jika hanya mengusulkan penggantian tema tanpa ada penjelasan rinci mengenai usulan itu, maka aku harus menjelaskan alasan mengapa aku menolak konsep yang pertama tadi. jadi, aku mulai dengan terlebih dahulu memohon maaf jika kiranya dalam kata-kata yang akan saya lontarkan kurang baik dan membuat orang lain merasa tidak senang. aku berpendapat bahwa, jika dari penjelasan JEPA adalah oraganisasi yang di dalamnya tak boleh ada jarak, maka saya paparkan lagi akan kehebatan penggunaan kata ONDE ONDE, karena jika menggunakan kata ini, saya rasa lebih pas, mengingat bentuk onde-onde adalah bulat layaknya bola kecil dan benar-benar tak berujung, maka itulah IPMMY yang kita semua inginkan. nah, jika saja menggunakan jepa, okelah jepa, tapi perlu diingat bahwa jepa itu adalah bentuk dua dimensi, dan masih banyak kita temui penggir-penggir dari jepa itu yang tidak bersentuhan dengan pinggir lainnya.
karena dari tadi tak ada tema yang disepakati, dan mungkin karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan suaranya, akhirnya kak Gio meminta izin kepada ketua untuk mengemukakan pendapat dan usulan temanya. dia mengusulkan tema "luta nipewayu, alosongang nipowamba, matemo naung setang", awalnya tema ini menuai banyak kontraversi, namun karena penjelasan yang rinci dan ketenangannya dalam meyakinkan kami semua, akhirnya tema ini pun dijadikan sebagai tema yang disepakati dan akan dibahas lagi pada rapat selanjutnya, tutur Gio dan dibantu oleh ketua.
Gio menjelaskan bahwa tema yang diusulkannya ini memang sepintas sangat tidak pantas untuk dijadikan tema, namun karena berbagai pertimbangan, mau tidak mau, maka tema ini harus diusulkannya, dan dia tidak memaksakan tema ini harus dipakai, ini hanya masih sebuah usulan yang belum tentu disetujui, tapi belum tentu juga ditolak.
menurut Gio, sebagai salah seorang yang berpengalaman dan sudah lama bergelut dengan IPMMY, menurutnya, tema ini sangat sesuai dengan keadaan IPMMY dan tujuan IPMMY kedepannya. penjelasan dari tema yang diusulkannya adalah sebagaia berikut ; selama ini kita selalu menggunakan tema dengan kata-kata yang indah, namun tidak pernah melihat kekurangna dalam diri kita yang semestinya kita rubah dan kita buang jauh-jauh, kemudian menggantinya dengan seuatu yang baru, tentunya sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan ataupun untuk orang lain. kitta hilangkan sifat malas dalam diri, kita hilangkan perkataan-perkataan dusta yang sering kita lakukan, tuturnya. 
lagi-lagi saya menyanggah tema ke-dua yang diusulkan oleh senior saya ini, saya menanggapinya dengan mengatakan bahwa tema yang diusulkan oleh kak Gio kurang sesuai dengan makrab kali ini, karena disini ada anak-anak baru angkatan 2017 juga, dan otomatis, pengetahuan kami sebagai anak baru tentang IPMMY masih sangat dangkal. tidak seharusnya kami disambut dengan tema-tema seperti ini, dan saya rasa ini adalah tema yang cocok untuk sebuah kegiatan refleksi bagi para pengurus lama IPMMY. sekali lagi saya bilang, saya kurang setuju dengan tema ke-dua ini.
entah bagaimana, ternyata tema sementara yang diapakai adalah tema yang ke-dua, dan akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. 
setelah membahas tentang tema, maka pembicaraan beralih kepada penentuan tanggal dilaksanakannya makrab. penentuan tanggal makrab pun disesuaikan dengan jadual kuliah maupun jadual ujian bagi teman-teman yang akan segera mengikuti ujian di kampusnya masing-masing. tanggal yang diusulkan adalah bertepatan dengan tahun baru, dan ada juga yang mengusulkan untuk dilaksanakn bersamaan dengan perayaan natal, karena pada hari natal pun tidak ada kegiatan dari IPMMY. tidak adanya kegiatan dari IPMMY saat hari natal nanti bukan karena kurangnya dana, melainkan karena anggota-anggota yang tergabung dalam IPMMY semuanya adalah beragama Islam. jadi, tanggal yang disetujui untuk pelaksanaan makrab nantinya adalah tanggal 24 sampai dengan tanggal 25 Desember 2017.
meski demikian, hasil rapat malam minggu ini masih akan tetap direvisi pada agenda rapat mendatang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku

  Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku Oleh: Wa’u Hadir di dalam gelap memang selalu membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki pun enggan melangkah. Malam adalah kawan bagiku menapaki setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku. Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri. Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang ...

rusak bukan buta

RUSAK BUKAN BERARTI BUTA Oleh: Wa'u    Sudah berderet kasus yang menimpa para aktivis bangsa. Mereka, sejatinya adalah orang-orang yang gandrung akan penegakan keadilan di bumi Indonesia. Merekalah para pengisi kemerdekaan yang dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai orang-orang yang melawan bangsanya sendiri. Bangsa yang dimaksud di sini ialah para penguasa yang penakut untuk mengungkap kasus-kasus sosial kemanusiaan. Tidak dipungkiri bahwa para pengusa adalah para penakut untuk membongkar kejahatan. Mereka takut kepada para oligark di belakangnya. Upaya membongkar kejahatan memang sesuatu hal tampak mudah namun dalam prosesnya membutuhkan keberanian yang tinggi. Ancaman akan segera menghujani ketika ada seseorang yang memiliki semangat keadilan dan mengupayakan pembongkaran kejahatan yang dilaukan elit. Salah satu kejahatan nasional yang sangat merugikan negara adalah korupsi yang dilakukan oleh aparat negara. Sangat disayangkan apabila para penguasa yang pada dasarn...