Ilmu pengetahuan
oleh: Muhammad Iswan
oleh: Muhammad Iswan
Setiap orang pasti memiliki kecenderungan masing-masing. Tidak ada yang
bisa mengatur kecenderungan orang lain, bukan hanya itu, bahkan masih banyak
anak cucu adam yang tidak dapat menemukan kecenderungannya sendiri. Faktor yang
paling menonjol dari ketidakmampuan tersebut adalah ketidakmauan dalam
menanggapi atau merespon hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
Dalam hal memiliki kecenderungan, manusia menjadi begitu bervariasi; ada
yang sukanya menapaki deretan gunung, main sepak bola, main bola voli, membaca,
menulis dan lain sebagaianya. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa setiap
manusia berhak untuk memperoleh sutau pengetahuan, itulah kecenderungan manusia
sebagai makhluk berindra dan berakal.
Pengetahuan manusia pun bermacam-macam. Ada yang sesuai dengan apa yang
menjadi kecenderungannya atau hobinya dan ada juga pengetahuan dari hasil yang
ia peroleh selama bergaul dengan kawanan manusia lainnya serta dapat pula ia
peroleh melalui teman tak bertatapnya seperti di dunia maya dan juga lewat
karya-karya tulis maupun visual dari orang lain yang telah berhasil ia
konsumsi, baik secara matang maupun masih setengah matang.
Pengetahuan-pengetahuan manusia ini tidak dapat dipaksakan kepada
manusia lainnya. Seperti yang dikatakan Cak Nun dalam bukunya yang berjudul ‘sedang tuhan pun
cemburu’ beliau menyebutkan bahwa segala bentuk apa pun, entah itu yang pada
hakikatnya adalah baik maupun buruk. Apabila dipaksakan maka tidak akan pernah
menjadi baik, tidak akan pernah terasa enak. Meski bersenggama pun, yang pada
dasarnya adalah kesenangan duniawai yang amat didambakan oleh setiap individu
laki-laki maupun wanita normal, namun apabila dapaksakan maka hanya menjadi
sekadar perbuatan semata, tidak akan dapat seseorang tersebut menikmatinya
menjadi sebuah keindahan nyata.
Kecenderungan dan pengetahuan manusia. Ketika duduk dua orang manusia
atau lebih pada suatu tempat, maka di sana dapat dipastikan akan terjadi
pertukaran informasi yang akhirnya dinamakan diskusi. Teramat mudah dikatakan
diskusi apabila terdapat suatu perkumpulan yang memang di sana terjadi
interaksi antarindividu, namun perlu juga diperhatian bahwa kadar atau level
diskusi untuk setiap perkumpulan pun berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya.
Seorang akademisi yang duduk berbincang mengenai status pembangunan
beberapa gedung dan dampak bagi kehidupan serta pereknomian masyarakat berbeda
dengan dengan duduknya anggota kelompok tani yang membahas mengenai laju
pertumbuhan sayur-mayur pada beberapa daerah tertentu dengan kadar keasaman
tanah yang berbeda. Meski demikian berbeda konteks, namun tetap saja keduanya
adalah bentuk diskusi, penyaluran dan perbincangan mengenai suatu ilmu
pengetahuan. Yang membedakan antara keduanya adalah konteks atau substansi dari
diskusinya, karena pada dasarnya memang berbeda kadar cabang ilmunya.
Dalam suatu diskusi, terjadi pertukaran dan penyaluran informasi di
antara orang-orang yang duduk menikmati disuksi tersebut. Kenapa ada ‘kata’
tersebut—orang yang menikmati—karena ketika seseorang yang duduk di sana tidak
menikmati suasana diskusi, ia tak ubahnya seekor kera atau sebuah patung, hanya
sekadar menghadirkan raga sedang pikiran melayang-layang entah ke mana.
Ketika seseorng tengah menyalurkan informasi yang ia telah peroleh
sebelumnya. Secara otomatis pengetahuannya mengenai suatu hal tersebut akan
berkembang terutama karena dipengaruhi oleh interpretasinya sendiri. Bukan
hanya itu, seseorang yang tengah menikmati diskusinya akan berpikiran bahwa
ketika proses penyaluran itu terjadi, ada suatu hal yang ia tidak sadari.
Kadangkala seseorang yang tenggelam dalam diskusinya dengan orang lain, suatu
waktu merasa bahwa ia seakan tidak sadar tatakala mengeluarakan kalimat-kalimat
maut yang berhasil menghipnotis lawan bicaranya itu.
Sebagaiaman disebutkan di atas bahwa apa pun yang dilakukan dalam
bentuknya sebagai pemaksaan akan berujung sia-sia karena dilakukan tanpa cinta
kasih. Sebaliknya, hal-hal yang dilakukan karena cinta itu akan lebih bermakna
dan lebih berbekas menggores ingatan dan langsung menuju file-file yang ada di
dalam kesadaran paling dalam.
Diskusi yang dilakukan oleh masing-masing individu dengan lawan
bicaranya memiliki level yang berbeda-beda dan substansi yang berbeda pula. Dan
dalam diskusi itulah sering sekali ditemui orang-orang mabuk, tenggelam dalam
kalimatnya sendiri, bukan hanya lawan bicaranya yang terhipnotis dengan
kalimat-kalimat agungnya, bahkan dirinya pun tak dapat menghindar dari
bumerangnya sendiri.
Disadari atau tidak, ketika dalam keasyikan mengobrol. Fikiran dan
perasaan sering melakukan pekerjaannya sendiri dengan cara berkolaborasi
mencari eksistensi lalu menunjukannya pada tuannya. Ketika pikiran dan perasaan
tercampur menjadi padu, maka akan didapati suatu ilmu dan pembahasan dalam
suatu kajian yang sangat romantis, harmonis dan dinamis. Namun ketika keduanya
berjalan arogan dan ingin menagn sendiri tanpa mau bersapa salam satu dengan
yang lain, maka sukar bagi seorang manusia untuk berbicara dan melakukan hal
secara utuh dan sempurna.
Banyak manusia, terutama bagi mereka yang sering mengikuti atau
mengadakan forum-forum diskusi, baik untuk skala kecil, sedang maupun yang
besar sekalipun, mereka mulai menyadari bahwa ternyata apa yang mereka peroleh
ketika berada pada sebuah diskusi sebelumnya tidak benar-benar hilang begitu
saja, melainkan berhasil lolos, masuk ke dalam suatu organ non-materi yagn
disebut kesadaran melalui jembatan yang disebut dengan folder non-materi pula.
Tak jarang, khususnya para kaum yang mengakui dirinya sebagai kaum akademisi
ketika disuruh untuk mencari literatur bacaan, banyak dari mereka menggunakan
alasan ‘aku ngga tau cara baca tuh,
soalnya setiap kali baca buku, kayaknya gak ada yang nynatol, gak ada yang bisa
aku petik dari bacaanku’ dan perlu untuk diingat, seperti yang telah
tertulis di atas, bahwa ketika seseroang memperoleh suatu pengalaman—membaca
pun termasuk bagian dalam istilah pengalaman—ia tidak benar-benar pergi,
menghilang lalu terbang, terhempas oleh angin, pengalaman tersebut akan
menyusup terus masuk ke dalam alam sadar sampai alam setengah sadar manusia
hingga menemui jodohnya yang kita sebut sebagai folder-folder penyimpanan
dokumen.
Dalam suatu diskusi, meskipun diskusi bebas. Seseorang yang pernah
mempunyai sebuah pengalaman—diskusi mapun bacaan—secara tidak langsung akan mempengaruhi
ucapan-ucapan atau kalimatnya. Dalam penyampainnya pun tidak plek sama dengan apa yang pernah
diterimanya, sedikti banyak ia kan berimprovisasi, entah untuk memudahkan lawan
bicaranya memahami apa yang disampaikan atau pun sebagai bentuk penguasaan
meterinya itu sendiri, dan sebagai pengembangan dari yang telah diphamai itu
agar sebagai pembuktian bahwa ilmu pun hidup, berkembang dan bergerak secara
dinamis dari masa ke masa.
Secara langsung maupun tidak langsung, penyaluran materi sebagai bentuk
interpretasi terhadap suatu permasalahan yang diangkat dalam diskusi, atau
lebih familiarnya disebut tema diskusi membuat kinerja otak lebih terporsir dan
melakukan senam ria. Dari hasil senam itu kemudian menetes keringat-keringat
ucapan indah menawan bagi para pendengarnya.
Jadi, jangan pernah berputus asa atau berkeluh kesah ketika tidak begitu
saja dapat mengenyam sesuatu yang anda baca atau yang sedang menjadi
perbincangan di lingkungan anda. Karena sangat besar kemungkinan, pada lain
kesempatan, ingatan-ingatan bahwa anda pernah mengalami atau mengetahuinya akan
datang dengan atau tanpa anda sadari untuk membantu dalam memecahkan persoalan
yagn anda hadapai di kemudian hari.
Ilmu atau sering juga disandingkan dengan pengetahuan tidaklah begitu
mudah untuk didefinisikan. Ilmu adalah sesuatu yang membutuhkan suatu teknik
atau berhubungan dengan metode sedangkan pengetahuan dapat dikatakan sebagai
sekadar pengetahuan semata, tidak harus berhubungan dengan suatu metode
tertentu untuk memperoleh dan memasukannya ke dalam kesadaran berpikir manusia,
contoh; pengetahuan tentang alat-alat dapur ibu: sendok, piring dan gelas cukup
sebatas pengetahuan saja dan tidak ada metode khusus yang mesti digunakan untuk
menggali informasi tentangnya.
Dalam berbagai kajian filsafat, khususnya ketika masih dalam tahap dasar
filsafat, seorang pengkaji selalu akan dibenturkan dengan berbagai
pemikiran-pemikiran yang menurut sebagian orang adalah sebuah pemikiran yang
aneh, tapi menurut sebagian yang lain bahwa hal tersebut merupakan sebuah
paradoks dan memiliki daya tarik tersendiri untuk dikaji dengan pengharapan
dapat menggali informasi yang ingin disampaikan dan tentunya untuk dapat
mengejar atau mengetahui jalur pemikiran sang filsuf.
Dalam perbenturan itu, dapat dketahui oleh para pencari, pengejar dan
pengimpi pemikiran orang-orang besar bahwa di sana mereka akan menemukan adanya
pertentangan antara satu filsuf dengan filsuf yang lainnya. Dan kebanyakan dari
para pemikir besar tersebut telah menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan
pemikiran pengetahuan dunia. Dalam perbedaan pandangannya, pemikir tersebut
selalu saja memiliki kroni yang datang di kemudian hari—entah yang hidup
sezaman maupun yang umurnya terpaut jauh—untuk menguatkan masing-masing
pandangan.
Pyrho misalnya. Dia tidak mengindahkan dan menolak akan adanya ablity manusia untuk memperoleh suatu
ilmu pengetahuan. Bukan hanya Pyrho, ada beberapa pemikir lain yagn juga
berangkat dari keraguan akan adanya kapasitas yang dimiliki oleh individu
manusia untuk mendapatkan suatu ilmu.
Selain Pyrho, terdapat pula salah satu pemikir besar dunia dan khususnya
di dunia pemikiran Islam, Imam Al-Gazali. Beliau merupakan salah satu pemikir
besar Islam yang awal karirnya berangkat dari keragu-raguannya akan sebuah ilmu
pengetahuan dan kemampuan manusia untuk memperolehnya.
Alasan yang dipergunakan oleh para pemikir besar sehingga berangkat dari
karagu-raguan sebelum mencuatkan namanya dan membariskan namanya di antara
deretan nama-nama pemikir besar lainnya di puncak gunung adalah bahwa seorang
manusia tidak dapat menegetahui sebuah ilmu karena yang menjadi alat bagi
manusia untuk memperoleh suatu ilmu adalah indra dan akal. Sebagaimana juga
disebutkan dalam ajaran agama Islam bahwa sejak lahir, setiap manusia disertai
dengan alat indra untuk digunakannya sebagai alat untuk melacak indahnya
ciptaan sang khalik. Selain itu, ada juga akal yang digunakan untuk mersepon
dan memberi interpretasi terhadapa berbagai hal yang berhasil ditangkap oleh
indra untuk kemudian dikelola. Setelah dikelola, jadilah ia sebagai sebuah ilmu
atau pengetahuan.
Hasil pengelolaan yang dilakukan akal itu kemudian membentuk sebuah
folder khusus untuk membedakan dirinya dengan hasil-hasil pengelolaan data
lainnya.
Tapi dari indra dan akal itu pula pemikir besar seperti Pyrho
mengemukakan keragu-raguannya terhadap kapabilitas manusia untuk memperoleh
suatu ilmu pengetahuan dikarenakan seringnya indra maupun akal melakukan
kesalahan.
Dari sana kemudian terjadi pertentangan yang sangat dahsyat dan mendapat
perhatian cukup besar dari para pemikir masa depan sebagai bentuk interpetasi
dan pengmbangan pemikiran dari pemikir sebelumnya.
Berbicara mengenai ilmu pengetahuan itu tidak terleps dari dua cabang
ilmu yang diabangga-banggakan oleh para penganut atau yang memiliki profesi
maupun fokus ilmu tentangnya, yaitu ilmu sosial dan ilmu eksak. Pada
hakikatnya, tidak ada pengkotak-kotakan yang ada di dalam studi-studi tersebut,
hanya saja dilakukan pembedaan agar lebih memudahkan para akademisi untuk
memperoleh informasi dari ilmu tersebut. Selain itu, juga; karena cakupannya
yang begitu luas sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan studi secara
bersamaan mengenai hal tersebut. Dan pada realitanya memang, dalam kajian
sosiologi misalnya, disana ditemukan perkembangan kehidupan sosial masyarakat,
termasuk juga cara berfikirnya sehingga terciptalah cabang-cabang ilmu
sebagaimana kita kenal dan hadir pada kehidupan meodern seperti sekarang dan
akan terus berkembang hingga akhir zaman nanti. Dalam perkembangan sosial
masyarakat ini pun diketahui bahwa di sanalah perkembangan tekhnologi hidup dan
berkembang. Dalam hal ini kemudian penulis menggambarkan bahwa memang kajian
atau ilmu sosia dan juga ilmu eksak, dalam contoh di atas diwakili oleh
perkembangan tekhnologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain, keduanya sling
terkait dan tujuannya pun sama, yakni menciptakan tatanan masyarakat yang lebih
maju dan mengembangkan atau bahkan menciptakan peradabannya sendiri. Itu lah tujuan
ilmu, dan tentunya, khususnya bagi kaum beragama. Tujuan ilmu yang sesungguhnya
adalah untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta ilmu itu sendiri, Allah swt.
Tuhan seluruh alam. Sehingga dapat pula disimpulkan bahwa, baik ilmu sosial,
ilmu eksak maupun ilmu agama itu sendiri, ketiganya tiada lain adalah untuk
tujuan mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan jalur pendekatan melalui
penghayatan terhadap ciptaan-ciptaannya, mengingat bahwa segala apa yang
dimiliki manusia adalah terbatas untuk dapat sampai pada konklusi ranah
ketuhanan.
Komentar
Posting Komentar