Langsung ke konten utama

materi pengantar epistimologi islam


REVIEW PENGANTAR EPISTIMOLOGI ISLAM
oleh: Muhammad Iswan
tugas menuju falsafatuna
            Orientasi filsafat adalah untuk menjawab sesuatu yang belum jelas atau mengandung keragu-raguan. Selain itu, juga untuk membuktikan sesuatu, dan mengikuti suatu pengetahuan berdasarkan pada pembuktian sehingga mampu menghilangkan skeptisisme dalam suatu pengetahuan tersebut.
Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang memiliki sumber dan seharusnya juga memiliki nilai sebagai sandaran kebeneran. Tugas filsafat dalam hal ini, epistimologi adalah untuk menghilangkan keraguan atas pengetahuan tersebut atau sering pula disebut dengan istilah skeptisisme. Orang yang skeptis adalah mereka yang berbicara namun tidak mampu memberikan nilai pada pengetahuannya. Timbulnya pertanyaan-pertanyaan terkait berbagai hal tentunya didasari pada sebuah keraguan atas sesuatu tersebut sehingga akal berusaha mengungkap apa sebenarnya yang ada pada sesuatu tersebut.
            Berkaitan dengan epistimologi. Espistimologi menolak ketidaktahuan. Epistimologi baru diperkenalkan seabgai sesuatu padahal ia telah digunakan ketika melakukan dialektika, bertanya atau bahkan melakukan kritik. Indrawi maupun rasio merupakan dua hal penting untuk menunjang pengetahuan manusia sebagai instrument sebuah pengetahuan. Kedua-duanya berperan penting dalam hal ini, namun perlu diingat pula bahwa keduanya memiliki kekurangan masing-masing.
            Definisi dalam epistimik berguna untuk membatasi sesuatu. Pembatasan sesuatu tersebut untuk mempermudah dalam menanggapi dan memperjelas sesuatu. Pada ranah definisi itu untuk mempermudah pula ketika melakukan persepsi. Yaitu penyatuan objek yang dipersepsi atau dibaca dengan subjek yang membaca (mempersepsi).  Pada dasarnya, pengetahuan adalah sesuatu yang swabukti, tak terbantah karena terlalu jelas. Dan untuk menjelaskannya diperlukan sebuah pembatasan dan metodologi agar memudahkan dalam memahami kejelasannya. Dan itu adalah wilayah epistimik.
            Pengetahuan adalah sesautu yang swabukti, terlalu jelas dan tidak mungkin untuk didefinisikan. Tujuan pendefinisian adalah untuk mempermudah memahaminya. Jadi, pendefinisian tersebut tidaklah mencakup pengetahuan secara universal. Yang didefinisikan tidak lain adalah particular atau bagian dari pengetahuan.
            Epistimologi itu memberikan nilai kepada sesuatu sesuai dengan apa yang dipahami sehingga perlu dicek kembali terkait konsep sesuatu lalu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Filsafat memiliki kebergantungan pada episitimiki untuk mengungkap sesautu yang swabukti. Dan, pengungkapan bahwa rasio dapat mencapai kebenaran dibutuhkan sebuah metode untuk melakukannya. Pertanyaan selanjutnya ialah dari mana metode itu diperoleh? Kalau dia berasl dari akal, bagiaman kita meyakini bahwa itu adalah metode yang benar? Epistimologi dalam ranah filsafat berbicara tentang kebenaran atau hal-hal yang hakiki. Tapi kebergantungan filsafat pada epistiologi tidak bersifat primer, ia hanya bersifat sekunder. Jadi ia tidak terhubung secara otomatis tapi dihubungkan untuk memperoleh suatu kejelasan dari sesuatu yang swabukti tadi. Tanpa menggunakan epistimologi, seseorang dapat terjebak dalam keberpikiran yang berlanjut secara terus menerus tanpa ditemukan adanya kesimpulan sebagai hasil kesimpulan dari keberpikirannya.
            Metafisika dikatakan sebagai sesuatu yang ada sesudah fisika. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ia ada sebelum fisika dan yang lain mengatakan bahwa ia ada sebelum dan sesudah fisika. Nah, untuk mengungkapnya pun diperlukan sebuah metode. Dari pembahasan sebelumnya dapat dikatakan bahwa untuk mengungkap hal tersebut diperlukan epistimologi sebagai penjawab keswabuktian sesuatu tersebut, dalam hal ini hal yang metafisis.
            Mertafisika adalah hal-hal yang sudah ada ia swabukti dan tidak ditolak. Keberadaannya membutuhkan epistimologi untuk mengungkap dirinya sebagai sesuatu yang sudah ada agar tidak tertanam pada sesuatu yang tanpa dasar. Metafisika tidak dapat diindra sehingga hukum-hukum fisika tidak berlaku padanya. Jika demikian, pastilah ia memiliki hukum tersendiri untuk mengungkap keberadaannya. Ia dapat dipahami dengan rasio atau akal.
            Mungkinkah manusia memperoleh pengetahuan? Hal ini kemudian perlu diperhatikan agar tidak terjebak dalam kesalahan berpikir sehingga kita dapat terlepas dari keragu-raguan atau skeptisisme. Keragu-raguan muncul sebagai akibat dari neraca pengetahuan yang digunakan untuk memberikan nilai. Di sana ada keragu-raguan yang diyakini. Sedangkan ketika ia ragu, ia yakin akan keragu-raguannya. Dengan itu ia memastikan bahwa ia ragu. Jadi yang membuat seseorang ragu bukanlah pada seluruh pengetahuan yang ada padanya, melainkan hanya sebagian karena ia tidak mampu memberikan nilai pada pengetahuannya disebabkan neraca yagn digunakan tidak dapat  ia yakini sepenuhnya.
            Ketika ada orang yang mengatakan bahwa pengetahuan itu mustahil, maka itu dapat dibantah dengan memablikan perkataannya. Yaitu bahwa dasar ia menerangkan hal tersebut, pun dengan perantaraan pengetahuan. Apapun yang dikatakan hendaknya berasal dari pengetahuan. Entah itu sebagai sebauh bentuk penerimaan terhadap pengetahuan atau pun penolakan terhadapnya.
            Pengetahuan sendiri dibagi menjadi dua bentuk menurut cara memperolehnya, yaitu pengetahuan huduri pengetahuan husuli. Kedua-dua pengetahuan ini bukan tanpa sebab. Ia dibedakan, lagi-lagi agar lebih mudah untuk memahaminya. Adapung  pengetahuan huduri adalah pengetahuan yang hadir dalam diri seseorang tanpa melalui sebuah metode apa pun juga. Ia hadir dalam diri manusia tanpa melalui perantara apapun. Ia adalah subjek mempersepsi dirinya sendiri sebagai objek. Jadi pengetahuan jenis ini adalah nyata pada dirinya dan swabukti tak terbantahkan. Tidak ada yang dapat menolak pengetahuan ini. Ini adalah kebenaran tak terbantahkan dan mustahil salah.
            Jenis pengetahuan yang kedua adalah pengetahuan husuli. Yaitu jenis pengetahuan yang diperoleh melalui suatu metode penalaran dan atau analisis. Ia terikat atau mengarah kepada suatu nilai. Ia terkait dengan benar dan salah. Jadi pengetahuan ini adalah jenis pengatahuan yang dapat dipertentangkan dengan basis argument dengan penentuan proposisi-proposisi konsep yang ada padanya. Berbeda dengan pengetahuan huduri  mempersepsi dirinya sendiri sebagai objek. Jenis pengetahuan yang satu ini diperoleh melalui penalaran yang artinya, ia adalah objek yang dipersepsi oleh subjek. Jadi di sini dibutuhkan suatu metode untuk menentukan hubungan subjek dengan objek untuk memverifikasi kebenaran objek tersebut.
            Kedua jenis pengetahuan ini masih memungkinkan untuk ditemukan korelasinya. Korelasi tersebut dapat diperoleh dengan adanya kesadaran terhadap hadirnya sesuatu dari dalam diri yang kemudian disebut sebagai pengetahuan huduri. Untuk menjelaskan atau menaruhnya di alam luaran maka di situlah pengetahuan husuli diperlukan untuk menentukan proposisi untuk meletakannya. Dalam proses mengeluarkan pengetahuan ini kea lam luaran pastinya akan terjadi reduksi arti dari pengetahuan yang muncul itu. Selain itu, kesadaran terhadap kehadiran sesuatu yang kemudian disebut pengetahuan huduri itu akan semakin kuat jika kesadaran kita terhadapnya pun menguat. Semakin kita sadar akan kehadiran tersebut maka kita secara langsung akan berusaha memaknai tentang yang hadir tersebut. Namun, akan berbalik melemah jika sesuatu tersebut terabaikan. Ia melemah dan terus memudar dan tidak mendangkan manfaat apapun atau tidak berarti apa pun. Kuat lemahnya pengetahuan huduri inilah yang disebut dengan gradasi pengetahuan huduri.
            Gagasan adalah sesuatu yang dimungkinkan untuk disampaikan kepada khalayak untuk menebar sebuah ide. Dalam hal ini, dapat kita bagi menjadi gagasan universal dan gagasan partikular. Gagasan particular di dalamnya mengandung tiga pembagian yaitu; indrawi, khayali dan juga wahm. Indrawi, menentukan gagasan sesaui dengan apa yang dilihat. Ada subjek dan objek yang dipersepsi pada satu waktu yang bersamaan. Hadirnya subjek mempersepsi karena adanya objek yang dipersepsi pada saat itu juga. Particular khayali adalah subjek mempersepsi suatu objek ketika waktu sudah berlalu. Dengan kata lain, ketika mempersepsi objek, ia terpisah dengannya. Jadi ketika mempersepsi suatu objek. Objek tersebut tidak ada pada saat subjek melakukan persepsi tersebut dan hanya terjadi di rasio atau akal. Dan yang ketiga adalah wahm. Yaitu perluasan dari pemahaman setelah melakukan persepsi. Wahm hadir sebagai perluasan dari gagasan yang sudah ada sebelumnya. Jadi ada objek dipersepsi kemudian dimunculkan objek-objek lain yang dipersepsi bersamaan dengan memperspsi objek pertama.
            Yang kedua adalah gagasan universal. Menurut kaum nominalis, universal pada dasarnya hanyalah penamaan. Universal berangkat dari particular yang belum jelas sehingga ia digeneralisir sebagai sesuatu yang sama. Jadi universal adalah gabungan dari berbagai particular. Oleh karena itu, tidak heran jika konsep universal menurut mereka hanyalah sebuah penamaan. Padahal jika ditarik lagi, harusnya konsep universal juga berdiri sendiri seabgaimana konsep particular. Tidak terikat pada konsep-konsep yang lain termasuk konsep particular. Dengan terlepasnya konsep universal dari konsep particular maka harus ada konsep baru tentang konsep universal secara mandiri. Hal ini karena akal tidak bisa menolak kehadirannya. Yaitu ketika ada sautu hal yang dapat disandarkan pada hal-hal lain yang masih memiliki korelasi dengan benda lainnya. Meskipun para kaum nominalis menganggap bahwa konsep universal adalah sebuah particular yang abstrak sehingga dikatakan hanya sbeuah penamaan, namun di dalam akal sendiri. Ia tidak dapat menolak akan kehadirannya. Jadi, ia bukan sekadar penamaan belaka dan semestinya ditelisik lebih lanjut tentangnya. Ia berlaku kapan dan kepada apa saja. Tidak terikat pada particular tertentu.
            Jadi konsep universal adalah konsep yang tidak bisa ditolak oleh akal dan mestinya dicaritahu tentang keberadaanya untuk bisa terlepas dari keraguan terhadap sesuatu yang dipahami akal sebagai sesuatu yang dapat dipasangkan pada banyak hal yang kemudian disebut sebagai universal tersebut.
            Jika dalam konsep particular terdapat tiga pembagian, maka begitu pula dengan konsep universal. Di sana akan kita temukan tiga bagian, yaitu; konsep mahiya, konsep filsafat dan konsep logika.
            Konsep mahiya sering pula dikatakan sebagai konsep primer karena ia bersinggungan secara langsung di realitas dalam penyantirannya. Ia bekerja secara sederhana dan tidak memerlukan perenungan secara mendalam di alam luaran. Sedangkan ia sendiri adalah keswabuktian di luar namun menjadi sebuah kekosongan apabila tidak ada tempat bersandar. Contoh; putih. Tidak akan ditemui putih sebagaimana putih itu sendiri, kecuali ia bersandar pada suatu benda, termasuk baju dan sebagainya.
            Konsep filsafat adalah konsep yang merangkap antara di dalam akal dan juga di realitas. Ini bisa kit temukan tatkala mencoba menganalisis sesuatu yang terjadi di realitas. Perhatikan sebab akibat. Dengan atau tanpa terjadinya sesuatu di alam luar, ia tetap dapat dipahami oleh akal. Namun ketika yang dicoba dianalisis adalah suatu fenomena. Konsep filsafat adalah yang memahami alam luar dan dihubungkan ke akal atau bisa dikatakan untuk membentuk relasi dari keduanya. Sedangkan konsep logika hanya dipahami di dalam akal. Ia tidak dipahami dan sama sekali tidak bersinggungan dengan alam luaran. Karena ia terjadi di alam akal maka ia menjadi mudah dipahami karena diterapkan dalam bentuk-bentuk konsep.
            Yang dipertanyakan kemudian adalah bagaimana untuk mengetahui keterkaitan-keterkaitan tersebut. Karena tanpa dipikirkan pun, realitas akan tetap bekerja dan berubah. Fenomena tidak berhenti sedangkan akal dapat dihentikan untuk tidak memikirikan fenomena tersebut. Terlepas bahwa ia hubungan primer atau pun sekunder, tetap juga akan kita cari tahu bagaimana bentuk hubungan antara alam akal dengan realitas tersebut.
            I’tibari atau sudut pandang. Ialah tinjauan akal, di sini dapat dihubungkan ke konsep sekunder; logika dan filsafat. Meskipun ada juga yang lebih menitikberatkan kepada suatu nilai. Dan ada pula yang mengatakan bahwa i’tibari diperuntukan bagi konsep-konsep yang sama sekali tidak memiliki contoh, baik di alam (realitas) maupun di dalam konsep dan hanya dipahami dalam bentuk khayali dan sering pula disebut sebagai bentuk rekaan dalam fantasi. Contoh yang digunakan dalam penggambaran i’tibarai untuk memahaminya adalah dua buah rokok dengan merek yang berbeda. Namun penyebutannya tetap sama. Dua benda dengan mereke yang berbeda namun tetap disebut dengan nama yang sama. Dan itu hanya dipahami di akal dan bukan di luar. Artinya di sini bahwa i’tibari adalah peletakan akal terhadap sesuatu meskipun sesuatu tersebut memiliki hakikat tersendiri. Ini dilakukan hanya untuk mempermudah dalam memahaminya ia adalah putusan akal. Tidak dengan alam luaran.
            Akal dan indra dalam ide memiliki peran masing-masing. Indra sebagai alat yang berhubungan langsung dengan realitas berguna sebagai landasan sebelum memahami. Artinya, indra adalah landasan  imaji untuk membentuk suatukonsep atau ide. Sedangkan akal memahami dan memilah kemudian jadi suatu pengetahuan yang baru dan disebut dengan ide. Konsep indrawi adalah keputusan akal. Indrawi adalah yang berhubungan langsung dengan alam seabgai landasan imaji lalu dipilah untuk kemudian dijadikan sebuah konsep yang disebut pengetahuan baru. Lalu kemudian. Bagaiamana cara memunculkan konsep tersebut?
            Kemudian adalah peran akal dan indra dalam afirmasi. Afirmasi adalah proses penurunan konsep ke alam luaran. Konsep yang berasal dari akal diturunkan ke realitas untuk menunjukan wujud dari konsep yang dipahami akal. Untuk menurunkannya ke realitas, membutuhkan peran indrawi sebagai alat yang bersentuhan langsung dengan realitas.
            Jadi akal dan indrawi memiliki peran masing-masing dalam hal mencapai pengetahuan. Sebagai landasan imaji, indrawi mengantarkan apa yang dipersepsi sampai kepada akal lalu akal memilah dan membentuk suatu konsep. Sedangkan dalam proses tasdiqi atau afirmasi, akal yang berfungsi sebagai landasan. Yaitu sebagai landasan konsep yang kemudian indrawi berperan sebagai alat yang dapat menghubungkan konsep dengan realitas.
            Nilai pengetahuan. Dapat dilihat pada adanya kesesuaian antara ide dan realitas. Dilihat dari konsepsi, bukan realitas dengan ide. Kesesuaian bentuk yang dipahami dengan objek yang memahami disebut kebenaran.itulah nilai pengetahuan, yaitu untuk memperoleh kebenaran. Kriterianya adalah kesesuaian yang diukur oleh akal secara langsung tanpa perantara. Namun bagaimana akal memahami hal tersebut? Ini juga menggunakan bantuan proposisi subjek dan predikat yang terjadi di alam luaran. Ini juga berhubungan dengan tasdiq yang menghubungkan akal dengan realitas yang ada.
            Etika dan hukum merupakan dua hal yang berbeda namun hendaknya selalu bersama. Etika atau moral adalah suatu aturan yang bersinggungan dengan diri sendiri.a da yang mengatakan bahwa ia berasal dari hati nurani. Baik diketahui maupun tidak, ia tetap berhubungan dengan diri sendiri meskipun tidak disertai dengan adanya sanksi fisik ketika melanggarnya, tapi kersesahan dan kegelisahan akan muncul dari dalam diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan kesadaran diri. Sedangkan hukum adalah hal-hal yang berkaitan dengan perintah dan atau larangan yang di dalamnya juga mengandung sangksi apabila melanggarnya. Seseorang yang melanggar hukum tidak akan diberi sangksi apabila tidak dikethui oleh orang lain atau penegak hukum. Dan hanya akan dikenai sangksi apabila dikethuinya. Hal ini yang membedakannya dengan moral. Namun hukum tanpa moral tidak akan mencipatkan kesejahteraan dalam bermasyarakat. Karena dibuatnya hukum adalah untuk menyadarkan masyarakat atau mengembalikan masyarakat pada tindakan-tindakan moral.
            Jika dikaitkan dengan kebenaran. Maka kebenaran adalah kesesuaian antara tujuan dengan tindakan. Tujuan yang ada dalam akal dengan tindakan yang terjadi atau dilakukan di realitas. Kesesuaian ini tanpa melupakan nilai etik (konsekuensi moral) dan tidak dengan menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya. Karena di sana juga terdapat nilai yang mesti diperhatikan dan berhubungan dengan kesadaran individu atau masyarakat secara umum.
           

kelas epistimologi periode Juli-Desember 2019
           
           
             
           
             

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku

  Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku Oleh: Wa’u Hadir di dalam gelap memang selalu membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki pun enggan melangkah. Malam adalah kawan bagiku menapaki setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku. Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri. Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang ...
IPMMY    Sabtu 9 Desember 2017, IPMMY atau singkatan dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta melaksanakan rapat, yaitu sekitar pukul 20:30. Rapat kali ini adalah sebuah rapat lanjutan dari rapat yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu. Rapat IPMMY pada malam minggu ini dihadiri oleh tiga belas orang dari berbagai angkatan. Mulai dari angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, dan juga 2017. Rapat ini dipimpin langsung oleh katua IPMMY, yaitu Muhammad Ikhsan. Meskipun sebenarnya, masa kepemimpinan ataupun periode kepengurusannya bersama dengan teman-teman pengurus yang lain telah berakhir, namun karena belum adanya pergantian atau belum dilaksanakannya MUBES (musyawarah besar) sebagai agenda tahunan untuk melakukan regenerasi kepengurasan, maka untuk pembahasan makrab sampai terlaksananyan makrab pada tahun ini masih tetap dipegang dan diamanatkan kepada pengurus yang lama. Pertama-tama, ketua ikatan pelajar daerah, khususnya daerah Majene, Muhammad Ikhsan sam...

rusak bukan buta

RUSAK BUKAN BERARTI BUTA Oleh: Wa'u    Sudah berderet kasus yang menimpa para aktivis bangsa. Mereka, sejatinya adalah orang-orang yang gandrung akan penegakan keadilan di bumi Indonesia. Merekalah para pengisi kemerdekaan yang dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai orang-orang yang melawan bangsanya sendiri. Bangsa yang dimaksud di sini ialah para penguasa yang penakut untuk mengungkap kasus-kasus sosial kemanusiaan. Tidak dipungkiri bahwa para pengusa adalah para penakut untuk membongkar kejahatan. Mereka takut kepada para oligark di belakangnya. Upaya membongkar kejahatan memang sesuatu hal tampak mudah namun dalam prosesnya membutuhkan keberanian yang tinggi. Ancaman akan segera menghujani ketika ada seseorang yang memiliki semangat keadilan dan mengupayakan pembongkaran kejahatan yang dilaukan elit. Salah satu kejahatan nasional yang sangat merugikan negara adalah korupsi yang dilakukan oleh aparat negara. Sangat disayangkan apabila para penguasa yang pada dasarn...