Langsung ke konten utama

bubarkan HMI


RESENSI BUKU
Oleh: Muhammad Iswan
Judul   : Bung Karno & HMI (Dalam pergulatan Sejarah, mengapa Soekarno tidak membubarkan HMI?)
Penulis : Dahlan Ranuwihardjo

            Buku yang berjudul Bung Karno & HMI dalam pergulatan sejarah ini memang banyak dibahas di beberapa pertemuan. Dengan hadirnya buku yang ditulis langsung oleh pelaku sejarah ini diharapkan dapat melihat sejarah dengan sudut pandang yang baru. Buku ini sebenarnya tidak mengulas banyak tentang sepak terjang HMI di Indonesia. Ia hanya membahas beberapa momen bersejarah HMI dan perjuangannya untuk mempertahankan Indonesia. Terutama ketika pada masa itu memang adalah masa-masa kritis bangsa Indonesia dengan berbagai macam ancaman yang bukan hanya dari luar saja, bahkan ancaman itu berasal dari bangsa Indonesia sendiri. kisah inilebih menitikberatkan ketika masa perjaungan kisaran tahun 1963 sejak dibubarkannya GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) hingga masa setelah terjadinya tragedi G30S yang menumbangkan nyawa enam jendral angkatan darat dengan satu perwira tahun 1966 hingga masa pembubaran PKI usai Jend. Soeharto diberikan titah oleh Presiden Soekarno untuk menagmbil segala bentuk tindakan yang diperlukan demi mempertahankan keutuhan dan keamanan negara.
            Bagi kader HMI dan juga mungkin banyak kader dari organisasi lain pernah mendengar isu bahwa Bung Karno˗sebagai presiden pertama Republik Indonesia sekaligus sebagai tokoh revolusi Indonesia˗pernah ingin membubarkan organisasi mahasiswa bernama Himpunan Mahasiswa Islam atas tuntutan dari kalangan PKI.
            Awal pembahasan buku ini berangkat dari kasus yang menimpa Universitas Brawijaya yang ada di Jember, Fakultas Hukum. Ketika Drs Ernest Utrecht, SH. Menyampaikan wacana pembubaran HMI usai menyampaikan mata kuliahnya kepada mahasiswa. Ia mempropagandakan dan mengucilkan HMI di sana. Yang pada akhirnya kemudian status Utrecht pun akan dikritisi karena asalnya tidak jelas, khsusnya pendidikannya. Di mana kemudian ia menyelesaikan masa studinya hingga memperoleh status pendidikan yang cukup tinggi itu.
            Pergolakan yang terjadi di sana pun mengundang reaksi dari Dema yang di dalamnya juga terdapat kader-kader HMI. mereka tidak terima ketika organisasi mereka kemudian dikucilkan di sana. Wacana pembubaran HMI ini kemudian dinaikan ke tataran nasional. Betapa cerdik PKI memancing dan menaikan isu. Bubarkan HMI adalah teriakan yang lantang diteriakan. Apalagi ketika kemudian Presiden Soekarano membubarkan Masyumi pada tahun 1960 dan disusul dengan pembubaran GPII tahun 1963.
            Dahlan adalah termasuk dari salah satu orang yang bertanggungjawab untuk organisasi GPII ini. Pada saat itu beliau gagal membatalakan pembubaran GPII. Dan beliau tidak menginginkan ketika kemudian HMI akan bernasib sama dengan organisasi itu.
            Petualangannya kemudian dilakukan untuk mengisi masa reses ia sebagai anggota DPR GR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) ke beberapa kota di Sumatra. Ia memulai dari Medan hingga Palembang. Beliau membawa beberapa kader HMI di masing-masing daerah tersebut untuk bertemu dengan petinggi atau tokoh penting di masing-masing daerah tersebut. Beberapa di antaranya adalah anggota TNI. Beliau cukup terkejut ketika mendatangi mereka yang kemudia disambut dengan ugkapan bahwa mereka bahkan sudah menerima edaran dari Jend. Ahmad Yani untuk senantiasa mengawal dan menjaga HMI dan jangan sampai dibbubarkan.
            Instruksi Presiden No. 8 tahun 1964 yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno. Salah satu isinya adalah untuk mengambil langkah-langkah yang bertujuan unutk menertibkan Himpunan mahasiswa Islam dan dijadikan sebagai salah satu organisasi yang revolusioner. Isi inpres itu ditujukan kepada Mentri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan.
            Teriakan untuk membubarkan HMI terus berlangsung dan terus pula diikuti dengan keberanian para kader HMI untuk menolak sampai melakukan adu fisik dengan orang tersebut sebagai bentuk keberanian untuk mempertahankan martabat serta nama baik HMI.
            Teriakan itu pun kemudian harus meredam ketika masa puncak kongres CGMI (Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang merupakan organisasi kemahasiswaan underbouw PKI tanggal 29 September 1965. Pada penutupan itu pun diundang sang proklamator bangas, Ir. Soekarno untuk menyampaikan beberapa kata. Di sana para unjuk rasa menuntut agar HMI segera dibubarkan. Waktu itu Soekarno menanggapi hal tersebut dengan mengatakan “jika HMI terbukti sebagai gerakan antirevolusioner maka akan saya bubarkan. Tapi jika PKI juga terbukti, maka PKI pun akan saya bubarkan” kurang lebih isisnya seperti itu.
            Pada saat itu pulalah seorang tokoh besar PKI, D.N Aidit menyampaikan pidatonya yang sangat keras untuk membubarkan HMI. “jika tidak bisa membubarkan HMI, pakai sarung saja”. Nayatanya sampai PKI bubar pun, HMI tetap bertahan dan harusnya Aidit membuktikan ucapannya itu untuk memakai sarung saja.
            Soekarno tidak membubarkan HMI dan malah berbalik memberi instruksi untuk memberikan pelatihan dan menanamkan nilai revolusioner ke dalam diri kader HMI. yang pada akhirnya berhasil memberikan pendidikan ke-HMI-an, Politik dan beberap yang lain untuk menciptakan ideologi kader. Khusus untuk pengetahuan politik, HMI bukan merupakan underbouw dari partai mana pun sehingga ia sempat kesulitan untuk memberikan pendidikan tersebut yang pada akhirnya terlaksana.
            Dan yang tidak kalah penting adalah bahwa jiwa dan sikap revolusioner adalah menggalang massa revolusi. Sedangkan yang paling tidak revolusioner adalah ketika menyingkirkan kelompok lain yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu revolusi.
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku

  Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku Oleh: Wa’u Hadir di dalam gelap memang selalu membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki pun enggan melangkah. Malam adalah kawan bagiku menapaki setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku. Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri. Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang ...
IPMMY    Sabtu 9 Desember 2017, IPMMY atau singkatan dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta melaksanakan rapat, yaitu sekitar pukul 20:30. Rapat kali ini adalah sebuah rapat lanjutan dari rapat yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu. Rapat IPMMY pada malam minggu ini dihadiri oleh tiga belas orang dari berbagai angkatan. Mulai dari angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, dan juga 2017. Rapat ini dipimpin langsung oleh katua IPMMY, yaitu Muhammad Ikhsan. Meskipun sebenarnya, masa kepemimpinan ataupun periode kepengurusannya bersama dengan teman-teman pengurus yang lain telah berakhir, namun karena belum adanya pergantian atau belum dilaksanakannya MUBES (musyawarah besar) sebagai agenda tahunan untuk melakukan regenerasi kepengurasan, maka untuk pembahasan makrab sampai terlaksananyan makrab pada tahun ini masih tetap dipegang dan diamanatkan kepada pengurus yang lama. Pertama-tama, ketua ikatan pelajar daerah, khususnya daerah Majene, Muhammad Ikhsan sam...

rusak bukan buta

RUSAK BUKAN BERARTI BUTA Oleh: Wa'u    Sudah berderet kasus yang menimpa para aktivis bangsa. Mereka, sejatinya adalah orang-orang yang gandrung akan penegakan keadilan di bumi Indonesia. Merekalah para pengisi kemerdekaan yang dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai orang-orang yang melawan bangsanya sendiri. Bangsa yang dimaksud di sini ialah para penguasa yang penakut untuk mengungkap kasus-kasus sosial kemanusiaan. Tidak dipungkiri bahwa para pengusa adalah para penakut untuk membongkar kejahatan. Mereka takut kepada para oligark di belakangnya. Upaya membongkar kejahatan memang sesuatu hal tampak mudah namun dalam prosesnya membutuhkan keberanian yang tinggi. Ancaman akan segera menghujani ketika ada seseorang yang memiliki semangat keadilan dan mengupayakan pembongkaran kejahatan yang dilaukan elit. Salah satu kejahatan nasional yang sangat merugikan negara adalah korupsi yang dilakukan oleh aparat negara. Sangat disayangkan apabila para penguasa yang pada dasarn...