Langsung ke konten utama

KAJIAN HmI FIAI UII
ISLAM & PROLETARIAT
Pemantik : Kanda Nurkholis
                    Penulis: Kanda Wa’ U
Agama adalah sesuatu yang sudah dianggap sakral oleh sebagian besar manusia. Berbicara tentang agama tidak pernah lepas dari keterkaitan manusia dengan penciptanya, Tuhan. Walau begitu. Ternyata hadirnya agama pun belum sepenuhnya memberikan jawaban yang signifikan terhadap kondisi sosial yang ada. Bahkan hadirnya agama pun justru menjadi pertentangan sendiri di kalangan manusia yang pro dan juga kontra terhadap hadirnya agama di tengah-tengah mereka. Hal ini sudah pasti tidak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab yang melandasinya. Jika memang dalam agama itu sendiri terdapat ajaran-ajaran yang baik dan diperuntukan bagi kehidupan manusia, namun melahirkan banyak konfil sosial pula. Tentulah ada yang bemasalah dalam usaha interpretasi terhadapnya. Bisa pula disebabkan oleh perbedaan metode penyampaian yang tidak adaptinf terhadap kondisi sosial masyarakat suatu tempat sehingga ketika dipaksakan ke dalam kehidupan mereka bukannya menjawab masalah malah menambah masalah baru bagi mereka.
            Berbicara tentang Islam tidak cukup hanya dalam kerangka agama. Sebagai jalan hidup, tentu Islam sebagai agama memang penting sebagai penerang. Begitu pun ketika mengatakan Islam sebagai ideologi, yaitu sebagai landasan piker atau perspektif kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan. Lebih jauh, bahwa ideologi pun bersandar pada pandangan dunia orang tersebut.
            Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad lahir di tengah-tengah kondisi masyarakat yang dzalim, dan moral yang tidak manusiawi. Di tengah kondisi semacam itu lah kemudian seorang nabi diutus oleh sang Maha Pencipta untuk mengembalikan keseimbangan tatanan moral masyarakat dunia. Kelak tatanan itu pun dilirik oleh banyak orang dan sistem di dunia.
            Sistem dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Itu adalah sebuah sistem yang sangat modern. Betapa modernnya hingga kondisi sosial masyarakat pada saat itu tidak memungkinkan untuk diterapkan secara menyeluruh atas apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ini.
Kondisi suatu masyarakat merupakan penentu dari bagus tidaknya dan cocok tidaknya sebuah sistem tatanan sosial untuk dikembangkan di sana. Ketika ajaran Islam atau syariat ini semakin berkembang dan tersebar luas, maka yang kemudian penting untuk diperhatikan adalah bagaimana kemudian kondisi sosial itu akan membaur dan berasimilasi dengan ajaran baru tersebut.
Sebuah ajaran baru yang dibawa oleh seseorang bisa jadi berbeda sama sekali dengan kebiasaan aau tradisi suatu masyarakat. Betapapun baiknya sebuah ajaran tersebut, jika diajarkan dengan tidak menggunakan pendekatan dan tau metode yang dapat diterima oleh objek sasaran atau masyarakat tersebut, maka hal itu tidak akan pernah berjalan dengan baik.
Pemilahan metode yang akan digunakan kepada masyarakat untuk menyampakan sebuah pengetahuan baru sangatlah penting agar apa yang hendak dismapaikan, dapat tersalurkan dengan baik dan tanpa penolakan berarti dari masyarakat. Penolakan sebauh ajaran oleh masyarakat itu bisa terjadi karena ketidaksesuaian nilai kehidupan yang dibawa dengan nilai kehidupan yang telah mendarah daging pada mereka. Bisa juga tidak adanya keteladanan yang disampaikan oleh sang pembawa ajaran baru tersebut yang kemduain akan menjadi acuan dalam bertindak bagi masyarakat ini sebagai sebuah bentuk pengetahuan dan tindakan baru yang masih dapat dikompromikan dengan nilai-nilai kehidupan mereka sejak awalnya.
Mungkin akan lebih baik ketika kita mulai membicarakan tentang apa sih sebenarnya Islam itu. Apakah ia benda, suatu sifat, agama atau semacam apakah dia itu, serta apa pengaruhnya bagi eksistensi manusia. Kenapa doktrin agama begitu kuatnya, khususnya di negara bagian Timur? Bukankah hidup itu seharusnya bisa berjalan begitu saja. Mencari makan, berhubungan sex, membersihkan diri jika menginginkannya dan kehidupan lainnya. Kenapa harus beragama? Apa arti penting agama bagi manusia?
Selain itu. Apa pula sebenarnya Islam ini. Kenapa ia datang sebagai sebuah doktrin yang sangat kuat dan dalam waktu yang singkat sudah dapat disebarluaskan dan berkembang ke berabgai wilayah di dunia. Apa kelebihan yang dimilikinya? Apa ia berbeda dengan Nasrani? Budha? Atau Yahudi? Jika ia berbeda. Sebenarnya apa yang membaut berbeda dan apa pula yang membuat Islam unggul. Jika ia sama. Kenapa pula harus dibedakan hingga melahrikan konflik para penganutnya, bahkan menjemputnya menuju lembah perpceahan yang terus menerus mengalir hingga ke anak-cucu para penganutnya?
Lalu bagaimana dengan proletariat. Sebuah istilah yang mulai eksis diperbincangkan sejak keberhasilan revolusi Oktober di Rusia yang dilakukan oleh kaum Bolsevik. Apa hubungan Islam dengan proletariat. Bukankah Islam sudah dikenal lebih dahulu sebelum akhirnya mendengar istilah proletariat? Atas dasar apa dua benda ini memiliki keterkaitan satu sama lain? Ataukah memang proletariat merupakan hasil produksi dari Islam? Jika proletariat adalah sebuah kelas sosial, lalu bagaimana ia harus disandingkan dengan Islam yang katanya menolak kasta dalam tatanan sosialnya?
Baiklah. Pertama akan lebih baik ketika kita mengupas sedikit tentang agama. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk memahami hadirnya Islam di tengah masyarakat dan kemudian menghubungkannya dengan kondisi sosial sebagai problem solver yang akan membawa tatanan dunia baru bagi kehidupan dan kelangsungan kehidupan manusia dalam tatanan yang lebih rapih dan teratur, tertib.
Berbicara tentang agama berarti berbicara tentang suatu pedoman, petunjuk arah kehidupan. Agama merupakan suatu hal yang digunakan untuk membebaskan manusia dari ketertindasan menuju kebebasan dan untuk memperoleh hak-haknya sebagai manusia. Dari sini, dapat dikatakan bahwa agama pun dapat dijadikan seabgai sebuah legal standing untuk melakukan sesuatu.
Agama juga dapat dikatakan sebagia sebuah lembaga masyarakat yang diajdikan acuan dalam berperilaku. Agama diakatakan sebagai sebauh lembaga masyarakat karena ia dapat menampung dan mempersatukan umat manusia menajdi suatu perkumpulan yang besar bahkan mereka tak saling mengenal satu sama lainnya. Namun begitu, mereka tetap punya kedekatan sebagai manusia yang punya pegangan sama menuju kehidupan mereka di masa depan dan dapat menghindarkan mereka dari bahaya yang muncul dan mengancam keselamatannya.
Namun demikian. Agama tak akan berarti tanpa ada sebuah ilmu yang diajarkan. Karena dari ajaranlah para penganut sebuah agama dapat menemukan arah hidup dan mendapatkan petunjuk kehidupannya. Agama tidak akan berguna bagi mereka yang tidak mau percaya dengan adanya Tuhan karena mereka akan beranggapan bahwa sejatinya hidup adalah memaksimalkan kehidupan itu sendiri untuk pemenuhan kebutuhan pribadi agar dapat bertahan pada eksistensinya.
Dalam hal pembicaraan mengenai agama dan Tuhan. Terdapat dua golongan yang sebenarnya berbeda namun sering disalahartikan menjadi istilah yang sama. Dua golongan ini adalah golongan manusia yang tidak percaya pada agama dan tidak percaya kepada Tuhan, disebut atheis. Sedangkan yang kedua adalah kelompok manusia yang percaya pada Tuhan (kebenaran tertinggi) namun tidak percaya pada sebuah dogma agama. Agnostik juga berpandangan bahwa ia tidak akan pernah sampai kepada kebenaran absolute karena ia hanya akan diketahui oleh sang pemiliknya sendiri, yaitu Tuhan.
            Jika Islam disempitkan pengertiannya hanya sebagai agama semata, maka sangat disayangkan karena Islam pun akan dinilai sebagai pengatur moral dan juga bentuk ibadah semata kepada Allah swt. Sehingga ia pun akan menjadi sulit untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan umat manusia. Baik dalam tatanan ekonomi, politik maupun sosial.
Islam tidak cukup jika hanya diartikan sebatas pada istilah atau kata agama saja. Lebih jauh, ia harusnya diartikan sebagai sebuah ideology, sebuah kontruksi berpikir dan bertindak, juga harusnya diartikan sebagai sebuah ajaran agar ia akan lebih mudah berasmilasi dengan kehidupan dan tradisi masyarakat. Karena ia akan berbenturan secara langsung dengan pemikiran atau alam pikirnya. Sehingga untuk penyebarannya pun tidak harus dengan kekerasan yang dibungkus dengan istilah jihad. Jihad yang dimaksud di sini adalah jihad yang dipaksakan untuk berbenturan secara langsung kepada fisik perseorangan demi menjajakan apa yang hendak disampaikannya.
Kembali kepada Islam yang tidak hendak diartikan hanya sebatas agama atau dogma, bahkan ideologi. Islam di sini akan dimaknai sebagai sebuah ajaran. Di mana, ia akan dipahami secara lebih luas dan dapat dibenturkan ke mana-mana. Dengan mengatakan Islam sebagai sebuah ajaran, maka akan mudah untuk mengatakan bahwa Islam di sini pun akan lebih mudah untuk dikritik karena ia adalah bentuk ilmu. Kritikan yang hendak diberikan pun merupakan sebuah motivasi yang disodorkan agar Islam kembali pada fitrahnya sebagai sebuah ajaran yang sesuai dengan perkembangan waktu dan juga di mana pun ia hidup dalam masyarakatnya.
Menyempitkan Islam hanya sebagai sebuah pembawa nilai ibadah menuju surga sehingga terlampau fokus pada kegiatan-kegiatan yang bersifat individual kepada Tuhannya saja tidak akan memberi pengaruh penting bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya dan justru akan menghilangkan esensi dari Islam sebagai rahmatan lil alamin itu sendiri.
Kepada siap rahmatan lil alamin itu akan disandarkan dan kepada siapa pula hal itu akan dipertanggungjawabkan jika Islam hanya digunakan sebagai ladang pengumpul dan perhitungan amal semata. Islam yang banyak diajarkan juga lebih kepada doktrin surga yang isinya tidak jauh dari iming-iming bidadari. Tidak puaskah manusia mengurusi sex di dunia sehingga untuk ke surge pun masih terpatri dalam pikiran untuk memperoleh bidadari di sana?
Mengenai Islam yang berusah dibangun dan direlevansikan dengan kehidupan sekarang tentu Islam harus pula dipandang sebagai sebuah ilmu dan mengkolaborasikan Islam dengan beragam bidang keilmuan lainnya. Jangan lagi kita terjebak pada doktrin bahwa Islam sudah mengatur segalanya jika kita sendiri saja masih kaku dalam kehidupan bersosial dan juga masih kurang kepedulian terhadap sekitar. Entah itu kepada sesama manusia, maupun kepada lingkungan di sekitar kita, termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Pada kajian kali ini tidak akan berbicara tentang hubungan manusia dengan lingkungan sekitar secara terperinci karena fokus pada kajian kali ini adalah bagaimana Islam memandang hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam tatanan sosial masyarakat yang tengah berkembang dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat kita di era ini.
Proletariat merupakan sebuah istilah yang disandang dan melekat kepada buruh serta kaum tertindas lainnya dalam tatanan masyarakat. Dalam hal ini, seakan-akan merekalah yang paling rugi dan paling lemah dalam hubungan sosial masyarakat. Mereka adalah para pekerja untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga untuk keluarganya. Berkaitan dengan ini, kita akan diingatkan pada sebuah istilah mustad’afin.
Mustad’afin adalah sebuah istilah yang berarti kaum-kaum yang dilemahkan. Sementara Islam sendiri hendaknya selalu berpihak kepada mereka yang lemah dan atau mereka yang dilemahkan ini. Bahkan di dalam Al-quran juga berbicara tentang hal ini, yaitu ketika ia berbicara tentang perbudakan, kemiskinan, janda, yatim dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya (Asghar Ali; 2009) yang terus berlanjut dalam kehidupan masyarakat dengan atau tanpa disadari oleh manusia itu sendiri, khususnya umat muslim yang seharusnya terus berusaha memahami kondisi sosial yang ada dan berusaha memberikan kontruksi baru bagi keberlanjutan kehidupan sosial ini menuju kepada kehidupan yang berkeadilan dan setiap orang dapat menikmati haknya dengan baik dan dengan cara yagn baik pula.
Dengan usaha untuk memahami kondisi sosial yang ada. Paling tidak, sebagai umat muslim dan sebagai pengikut Nabi Muhammad, kita dapat memberika sedikit pemahaman dan membentuk sebuah kontruksi untuk sama-sama memberikan pandangan terhadap peristiwa-peristiwa sosial yang berlangsung ini, kemudian memberikan atau menawarkan solusi-solusi yang konkrit dengan metode pendekatan konflik dan solusi yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.
Sekarang ini. Sadar atau tidak. Ceramah-ceramah dan doktrin Islam yang disampaikan lebih banyak kepada ranah spiritual dan kegiatan-kegiatan perbanyakan amal pengantar surga saja. Tak heran ketika Islam semakin lama akan dipandang sebagai sebuah ajaran yang simbolik dan ritual saja. Lalu di mana Islam akan menengahi persoalan-persoalan sosial yang seringkali muncul tanpa prediksi ini. Di mana pula Islam akan menjawab tantangan kehidupan manusia dalam tatanan sosialnya?
Untuk menemukan kembali makna dari istilah mustadafin di atas, maka perlu diadakan sebuah analisa terhadap kehidupan sekarang ini. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah benar bahwa kaum-kaum mustad’afin ini masih ada di tengah-tengah kita atau memang sudah tidak ada lagi yang tersisa sehingga kita tidak lagi perlu memikirkannya ke depan. Untuk mengetahui itu, ada dua bentuk universal yang disampaikan oleh Alquran melalui surah al-ma’un untuk menggambarkan keadaan para kaum mustad’afin ini untuk kemudian dapat membantu mempermudah kita dalam mendetekasi keberadaan mereka. Dua bentuk kaum itu adalah kondisi yatim dan yang kedua adalah miskin.
Dari dua kondisi tersebut di atas dapat dilihat dan bahwa hal yang sangat dominan menentukan ketertindasan seseorang dapat dilihat pada penguasaan ekonominya. Berkaitan dengan ini. Akan dilanjutkan pada kajian selanjutnya agar lebih spesifik. Sedangkan pada kesempatan kali ini hanya akan mencoba menganalisa keberadaan para kaum tertindas dan memastikan mereka masih ada atau tidak.
Proletariat dalam istilah Islamnya dapat dikatakan sebagai kaum mustad’afin. Mereka adalah orang-orang yang tak dapat melakukan penguasaan, bahkan penguasaan terhadap dirinya sendiri. Ia dikuasai oleh luar atau manusia lain yang memiliki kepentingan dan ambisi yang lebih besar dari mereka para proletar yaitu untuk mencapai sebuah keuntungan untuk dirinya sendiri dana tau kelompoknya. Mereka ini membutuhkan para kaum proletar tidak lain adalah untuk menunjang kerja mereka agar apa yang mereka kehendaki dapat tercapai dengan baik dan sedapat mungkin sesuai dengan apa yagn telah direncakan sebelum melibatkan para kaum proletar ini.
Singkatnya, Islam dan Proletariat adalah konjungsi, di mana Islam hendak meverifikasi keberadaan kaum proletar atau mustad’afin dalam mengemban amanah untuk memperbaiki tatanan sosial dan memberikan kebebasan kepada setiap individu dengan kebebasan yang bukan tak terbatas. Keberadaan Islam sebagai sebuah ajaran dan gerakan akan sangat berpengaruh besar dalam memperbaiki tatanan sosial masyarakat apabila senantiasa dialkukan upgrading terhadap penafsiran ayat-ayat ajaran di dalamnya dan disesuaikan dengan kondisi sosial yang terus berkembang.
Lalu apa solusi yang dapat ditawarkan ketika kita telah mengtahui keberadaannya? Jawaban dari pertanyaan ini akan disampaikan sebagai sebuah jawaban yang dapat dipertimbangkan untuk ditolak, diterima atau dikritik usai pembahasan tentang proletariat era pendindasan kapitalisme dan juga pembahasan tentang datangnya Islam sebagai sebuah ajaran dan gerakan pembebasan. Sebagaimana juga telah dikupas banyak dalam buku yang ditulis oleh Asghar Ali Engineer dalam Islam dan Teologi Pembebasannya. Dengan begitu, kita akan lebih mudah memahami struktur sosial era industry kapitalis dan bagaimana Islam mengatur hal tersebut serta bagaimana Islam dapat menjadi tameng yagn terus menerus melindungi umat manusia dari ketertindasan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku

  Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku Oleh: Wa’u Hadir di dalam gelap memang selalu membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki pun enggan melangkah. Malam adalah kawan bagiku menapaki setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku. Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri. Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang ...
IPMMY    Sabtu 9 Desember 2017, IPMMY atau singkatan dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta melaksanakan rapat, yaitu sekitar pukul 20:30. Rapat kali ini adalah sebuah rapat lanjutan dari rapat yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu. Rapat IPMMY pada malam minggu ini dihadiri oleh tiga belas orang dari berbagai angkatan. Mulai dari angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, dan juga 2017. Rapat ini dipimpin langsung oleh katua IPMMY, yaitu Muhammad Ikhsan. Meskipun sebenarnya, masa kepemimpinan ataupun periode kepengurusannya bersama dengan teman-teman pengurus yang lain telah berakhir, namun karena belum adanya pergantian atau belum dilaksanakannya MUBES (musyawarah besar) sebagai agenda tahunan untuk melakukan regenerasi kepengurasan, maka untuk pembahasan makrab sampai terlaksananyan makrab pada tahun ini masih tetap dipegang dan diamanatkan kepada pengurus yang lama. Pertama-tama, ketua ikatan pelajar daerah, khususnya daerah Majene, Muhammad Ikhsan sam...

terpenjara dalam ekonomi

 TERPENJARA DALAM EKONOMI oleh: Wa'u     Kehidupan manusia memang senantiasa berkembang, tidak ada yang dapat memungkirinya. Sebagai manusia yang menduduki status sebagai petani, nelayan, pegawai negri maupun bangku sekolah serta bangku pemerintahan, semunya ikut berkembang sesuai dengan bentuk perkembangan dan jalannya masing-masing. Di dalam peragaulan sosial yang terjadi di masyarakat, ditemui banyak sekali perbedaa-perbedaan dalam satu masyarakat, entah itu dalam hal status pendidikan, status sosial maupun dalam hal ekonomi. Namun, jika diperhatikan lebih dalam. Masyarakat-masyarakat ini telah tereduksi ke dalam suatu bentuk masyarakat yang selalu menggantungkan segala sesuatunya terhadap ekonomi. Di era modern sekarang, kata-kata tidak ada yang gratis di dunia sering kali terdengar dan terlintas di telinga. Dan, hal tersebut memang tidak hanya sekadar ucapan belaka. Ia benar tumbuh di tengah kehidupan masyarakat. Tidak ada masyarakat yang tidak mengin...