Reflesksi
Kegiatan HmI: Membangun Gerakan di tengah pandemic Covid19
Oleh:
Iswan (Kajian HmI FIAI UII)
Sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia telah mencatat
keterlibatan HmI dalam berbagai momentum problematika kebangsaan. Tidak heran
bahwa Himpunan mahasiswa Islam (HmI) ini pun sejak awalnya telah berdiri di
atas landasan Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan. Konsekuensinya adalah kader-kader
yang tergabung dalam lingkaran hijau hitam ini akan selalu ditantang
untuk meberikan jawaban berupa solusi untuk ketertiban dan keutuhan NKRI.
Di bawah ini kami tuliskan beberapa catatan penting yang kami kutip
dari Ketua umum Pengurus Besar Himpunan mahasiswa Islam 2020-2022, Kakanda
Affandi Ismail Hasan, melalu forum diskusi pada tanggal 12 Mei 2020 melalui live
Instagram bersama account Instagram @HMI_FIAIUII.
Pengangkatan tema mengenai refleksi kegiatan HmI, ditujukan untuk
merusmuskan suatu gerakan alternatif agar tetap produktif di tengah pandemic.
Kegiatan HmI maupun organisasi kemahasiswaan lainnya adalah salah satu pilar
demokrasi yang terus menerus harus dijunjung tinggi agar mimbar-mimbar bebas
yagn telah tersedia dalam panggung demokrasi dapat tetap terisi sebagai wacana
pergerakan yang difokuskan untuk kemakmuran bersama rakyat tanpa ada tendensi
sosial yang lainnya.
Sebagai sebuah himpunan ideologis yang tak terlepas dari wacana
ke-Islaman dan juga ke-Indonesiaan, HmI akan terus menerus menyumbangkan
fikiran, konsepsi dan rumusan-rumusan inovatif untuk mengawal kehidupan
mengarah kepada kesejahteraan rakyat. Tidak terkecuali juga dalam masa
pengurungan akibat wabah yang melanda dunia seperti sekarang.
Refleksi
kader
Pertama, “aktualisasi Gerakan
potensial”. Konsep dasar Gerakan tidak bisa cukup hanya menjadi konsep
dan wacana dalam setiap diskusi yang bisa memakan waktu hampir setiap hari. Gerakan-gerakan
potensial yang muncul melalui ide-ide kreatif di meja kopi dan atau setiap
diskusi hendaknya diaktualkan agar tidak selalu mejadi wacana belaka tanpa
memberikan efek apa pun bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebelumnya sudah disampaikan bahwa salah satu gagasan pendirian HmI
oleh para founding fathers adalah tentang ke-Indonesiaan. Di dalam
wacana ke-Indonesiaan itu memuat tentang nilai-nilai kehidupan dan juga
problematika kehidupan bangsa yang patut mendapat respon dari setiap individu
di dalam negara. Tidak terkecuali juga bagi para kader Himpunan Mahasiswa Islam
sebagai upaya menjaga dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam upaya mengaktualkan Gerakan tentu dibutuhkan sebuah metode.
Oleh karenanya, basis data yang akurat akan selalu menjadi kebutuhan dasar
ketika menysun sebuah langkah pergerakan. Dari sini pula para kader akan
dibentuk melalui pelatiahan penelitian dan pengolahan data ril yang dimaksudkan
untuk memberikan solusi terbaik demi menjawab tantangan kehidupan umat.
Untuk mengaktualisasikan Gerakan potensial yang ada dalam HmI
mestinya dapat dilakukan dengan metode analisis problem, memperhatikan kondisi
masyarakat, baru kemudian dapat menwarkan solusi. Tanpa data konkrit, kita akan
kesulitan dalam membangun dan merumuskan konsep dan strategi menuju
aktualisasi.
Kedua “perjuangan HmI bukan hanya
merupakan perjuangan reaksioner tapi juga merupakan perjuangan ideologis dan
contributor pemikiran solutif”. Hal ini bisa saja dibatanh oleh berbagai
kalangan yang berbeda pendapat. Namun pertama yang harus diluruskan di sini
adalah pemahaman tentang makna reaksioner sebgaimana tersebut, di atas.
Reaksioner yang dimaksud di sini lebih kepada sikap pro-aktif terhadap isu-isu
yang beredar serta tanggap dalam memberikan solusi yang dianggap tepat dan
perlu guna menjawab apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. ‘
Mengenai HmI sebagai perjuangan ideologis pun bisa dikatakan iya.
Sebab basisnya yang ada di tengah kehidupan para intelektual Mahasiswa menjadi
motif tersendiri dalam melanggengkan wacana serta pikiran-pikiran kritis yang
akan ditawarkan kepada pemerintah sebagai pemegang serta penyelenggara negara,
maupun kepada masyarakat luas untuk memberikan edukasi terhadap berbagai hal
yang masyarakat butuhkan. Dari sini pula, dapat dilihat bagaimana HmI berusaha
memberikan kontibusi yang solutif sebagai bentuk sikap pro-aktif terhadap
problem sosial di lingkungannya.
Ketiga “wacana ke-Islaman,
ke-Indonesiaan dan juga kebangsaan” hal yang sempat penulis dengar dari apa
yang disampaikan oleh Affandi dalam diskusi kali ini adalah tentang krisis
pembahasan maupun konseptualisasi mengenai tiga wacana di atas. Mengingat bahwa
tiga poin tersebut sanga krusial untuk dibahas, khususnya di dalam HmI. Sebab
ia bersinggungan langsung dengan proses perjalanan sejarah organisasi ini.
Krisis wacana tersebut kemudian berimplikasi pula pada kurangnya
kepekaan atau semakin berkembangnya apatisme dalam tubuh organisasi maupun kader—tanpa mengurangi rasa hormat kepada para kader yang masih tetap
konsisten dalam perjuangan wacana dan pikiran kritis serta gerakan yang masih
terus massif digencarkan—karena tidak lagi dapat membaca
kondisi lingkungan sekitar maupun perkembangan kehidupan sosial umat Islam di
Indonesia. Akhirnya yang terjadi kemudian adalah disintegrasi sebagai akibat
dari ketidakmampuan dalam merumuskan kembali nilai-nilai dasar yang dimiliki
oleh bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia pada umumnya serta probelmatika
kehidupan umat Islam pada khussunya.
Adanya kemajemukan yang hadir dalam tubuh Indonesia menjadikan
pembacaan mengenai multikulturalisme dan pluralisme sebagai suatu kajian yang selalu
penting. Tanpa adanya pengkajian tersebut, tampaknya akan semakin sulit
menemukan rumusan untuk tetap dapat menjaga keutuhan negara. Jangan sampai
golonga-golongan yang ada di dalam tubuh Indonesia hanya terfokus pada
pemantapan politik identitas semata.
Dalam pandangan penulis. Jika politik identitas dimaksudkan hanya
untuk menunjukan eksistensi organisasi maupun individu sebagai akibat dari
alineasi sejarah, maka Politik identitas sudah tidak menjadi krusial lagi di
Indonesia jika kita memang berusaha menghargai dan memberi penghormatan
terhadap multikulturalisme di Indonesia. Politik identitas harusnya sudah
lenyap bersamaan dengan runtuhnya persaingan ideologi politik yang terpaut
dengan ketidakmampuan suatu golongan menunjukan eksistensi dirinya di tengah
meriahnya Gerakan-gerakan dari golongan lain dalam bentuk persaingan perumusan
dasar negara. Jadi, apakah HmI masih membutuhkan Gerakan politik Identitas di
era sekarang? Jawaban dari kader HmI sendiri pun masih akan sangat beragam dan
itu akan tercermin dalam setiap diskusi dan juga Gerakan yang digelar.
Gerakan di
tengah wabah Covid19
Berikut adalah beberapa Gerakan alternatif yang dapat dilakukan di
tengah wabah Covid19. Baik oleh kader Himpunan mahasiswa Islam maupun khalayak
umum.
1.
Memanfaatkan media massa dan
atau media online sebagai sarana propaganda dan untuk sosialisasi mengenai
kodisi terkini negara serta bagaiman implikasinya ke depan. Dalam hal ini
adalah mengenai update informasi Covid19 serta dampak sosial yang ditimbulkan
dari wabah ini.
2.
Sebagai sarana pengembangan
diri. Riset mengenai Covid19 dalam berbagai pendekatan keilmuan dapat dilakukan
oleh kader.
3.
Pendidikan informal dapat
dilakukan oleh para kader yang telah sempat kembali ke kampung halaman untuk
membangun lapak-lapak intelektual guna memberikan Gerakan nyata di masyarakat.
Mengingat bahwa Pendidikan model virtual yang menjadi alternatif dari
pemerintah, nyatanya belum sepenunhnya mampu menjangkau semua siswa dan juga
guru di Indonesia. Masih sangat banyak kekurangan yang dimiliki oleh model ini
dalam dunia Pendidikan kita. Sehingga yang menjadi alternatif tawaran kembali
dari kami adalah pemanfaatan SDM Himpunan mahasiswa Islam dan juga seluruh
elemen yang ingin turut andil dalam kegiatan semacam ini adalah memberikan
lapak Pendidikan informal di kampung halaman. Terutama di pedesaan yang masih
sangat kekurangan fasilitas penunjang pendidikat model virtual.
4.
Senantiasa mengawa peredaran
pembagian dana BLT yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat agar tidak
terjadi kecurangan atau pun penyelewengan dalam penyalurannya oleh oknum-oknum yang
tidak bertanggungjawab. Salah satu cara yang ditawarkan adalah berusaha memegang
data masayarakat yang layak menerima bantuan untuk dikomparasikan dengan data
yang dipegang oleh pihak penyalur BLT (bantuan Langsung Tunai) di daerah
domisili masing-masing kader.
5.
Memanfaatkan segala bentuk
sumber daya alam untuk diolah demi mengantisipasi kondisi terburuk terakit
persediaan pangan di Indonesia. Entah karena takut kekurangan persediaan bahan
pokok maupun kekahwatiran akan lonjakan harga bahan pokok ke depannya, yang
bisa jadi tidak lagi dapat dijangkau, khususnya bagi kalangan masyarakat kelas
bawah. Contoh tanaman yang dapat menjadi alternatif adalah jagung, kedelai,
bawang merah dan beberapa bahan makanan yang jangka waktu panennya tidak
memakan waktu yang lama.
6.
Turut serta bersama para buruh
yang terkena PHK akibat wabah Covid19 untuk menuntut ke pada pemerintah dalam
hal upaya penghidupan agar tetap dalam koridor kehidupan yagn layak dan tetap
dapat memberi makan untuk diri dan keluarganya.
7.
Turut serta bersama gerakan
daerah sebagai relawan pencegahan penularan Covid19 yang ikut di berbagai posko
yang telah dibuka, khususnya di daerah pedesaan yang masih minim tenaga
relawan.
poin yang tertulis di atas merupakan tawaran dari kami dalam upaya membangun gerakan dalam
kondisi negara sekarang, di masa pandemic Covid19. kami sepenuhnya
sadar bahwa tentu masih banyak Gerakan alternatif lain yang dapat dilakukan
oleh teman-teman berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Tapi paling tidak, inilah
salah bentuk kontrbusi yang masih dapat kami pertahankan hingga sekarang untuk
sama-sama selalu mengingatkan kepada seluruh elemen, bahwa gerakan mahasiswa
tidak pernah surut atau bahkan mati terbunuh sampai kapan pun dan dalam
sistuasi yang bagaimana pun.
Bergeraklah mahasiswa, #HmIFiaiUii, Yakin Usaha Sampai, (YAKUSA)
Komentar
Posting Komentar