Langsung ke konten utama

aku kecewa masuk HMI


AKU KECEWA MASUK HMI

            Agar lebih konkrit dan tanpa rekayasa, saya akan mengenalkan diri dulu untuk menegaskan kenapa tidak suka di HMI dan melihat HMI dari dalam. Saya menulis ini sebagai bentuk kritikan dan sebuah pesan perasaan meskipun memang yang tertulis di sini tidaklah sepenuhnya dapat mewakili rasa yang dialami selama menjalani proses di HMI. Karenanya saya katakan bahwa saya adalah satu kader HMI. Tidak usah dipercayakan tentang bentuk HMI yang mana. Sebagaimana banyak diketahui oleh para mahasiswa yang aktif di organisasi kemahasiswaan bahwa HMI sudah sedemikian besar hingga sekarang dikenal istilha HMI MPO dan juga HMI DIPO.
            Sebagai mahasiswa baru tentu tidak banyak pengetahuan yang saya peroleh sebelumnya, apalagi perihal organisasi kemahasiswaan. Baik itu berupa organisasi ekstra kampus maupun intra. Bahkan saya tidak tahu menahu tentang pembagian organisasi ekstra maupun intra. Tapi saya memang mencari salah satu organisasi yang sekiranya saya dapat menambah wawasan dan mengasah kemampuan saya di sana. Akhirnya HMI adalah pilihan saya untuk berproses. Bukan karena takut dicap sebagai mahasiswa kupu-kupu atau segala macamnya. Tapi karena memang ada motavisasi sebagai bentuk balas dendam. Sejak SMA saya sudah benar-benar tidak paham tentang organisasi, apapun bentuk organisasi itu.
Bentuk motivasi itu berangkat dari diri saya pribadi. Menurut saya, motviasi yang terbaik meamang adalah motivasi yang berangkat dari kesadaran sendiri dan itu akan berlanjut lebih lama. Adapun motivasi bentuk lain (eksternal) itu hanya sebagai pemantik pembangun kesadaran sedangkan yang menumbuhkembangkan kesadaran itu adalah dari diri sendiri.
Saya kemudian masuk menjadi bagian dari HMI sebagai kader atas saran dari salah satu senior saya. Untuk diketahui agar tidak dianggap sebagai doktri senior kepada junior bahwa senior saya itu bukanlah kader HMI. Beliau adalah kader IMM di UMY. Narasi dialognya kurang lebih seperti ini beliau menyampaikan ke saya “kalau kamu masuk UMY kakak sarankan buat masuk di IMM, kalo di UIN masuk PMII, kalo di UAD IMM” lalu kemudian saya mengatakan bahwa saya keterima di UII. Kemudian ia melanjutkan pula dengan mengatakan bahwa itu sekadar saran darinya “kalo masuk UII ya sudah jelas sekiranya ingin berporeses di sana, masuk HMI saja” dan waktu itu memang saya belum tahu bahwa HMI ada dua.
Saya kosong sama sekali ketika menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Teman pun tidak punya. Sejak kulper (kuliah perdana) saya sudah mencarinya dan menanyakan ke kating-kating yang menjemput untuk dibawa ke fakultas (FIAI). Namun ternyata belum ada penerimaan kader baru katanya.
Singkat cerita. Sampai minggu kedua kuliah pun saya belum dapat info tentang HMI. Sampai suatu hari saya melihat di kampus ada yang mengenakan PDL/ korsa HMI. Saya bertanya tentang bagaiaman untuk bisa menjadi bagian dari HMI. Kemudian dia memberikan ke saya salah satu kontak pengurus di sana, yang kemudian hari saya ketahui bahwa kontak yang diberikan itu adalah kontak kanit perkaderan di HMI. Dia yang menangani kader-kader baru, termasuk untuk ikut proses LK (Latihan Kader) 1 sebagai langkah awal menuju ruang tamu di HMI.
Proses LK 1 saya lalui dengan cukup khidmat meski kadang tertidur ketika ada materi yang disampikan oleh pemateri LK. Awalnya memang membosankan untuk duduk di sana selama seharian menerima asupan materi. Hanya sesekali otak kembali fresh ketika pematerinya menyampaikan materi dua arah dan dialog pun seketika terjadi di sana. Pertetntangan bukan hanya antara pemateri dengan peserta tapi juga pesesrta dengan pesrta. Itulah saat-saat paling aku senangi karena adanya pertukaran informasi dengan proses dialketika yang memang masih terbilang level bawah. Tapi itu adalah proses, harus dipermaklumkan.
Sampai sekarang memang tidak semua materi LK 1 itu masih teringat di kepala. Tapi paling tidak, dari setiap tema, ada beberapa hal yang masih bertahan dan kemudian dikembangkan beriringan dengan semakin bertambahnya pengalaman. NGOPI adalah salah satu strategi yang digunakan oleh pengurus untuk memberikan kami asupan nutrisi otak kepada kami sebagai gelas kosong atau pun gelas setengah berisi untuk kemudian saling kembali berdialektika di sana.
            Saya harus mengakui bahwa saya tidak puas dan saya kecewa masuk menjadi kader HMI. ini adalah poin dari judul di atas. Saya haru bawa pembaca ke area ini. Area di mana saya kemudian menemukan kekeceawaan menjadi kader di HMI. saya kecewa karena kurangnya wacana yang saya terima. Saya kurang wawasan. Tidak semua saya peroleh di sini, tapi itu saya maklumkan.
            Saya sudah masuk di gerbang HMI melalui sederatan proses LK 1. Ya, kalau dipikir-pikir lagi berarti saya sekarang ada di ruang tamunya HMI. saya sudah ada di sana, tapi di mana orang-orang yang meracik dan menebar ilmu pengetahuan itu. Saya tidak menemukan racikannya. Saya kecewa lagi. Ah, sepertinya memang saya harus menjelajah lagi. Saya coba keluar dari rumah ini (HMI) lalu mencari kepada rumah yang lain, di mana saya akan menemukan apa yang saya cari.
            Penjelajahan saya cukup panjang, namun hasilnya hampir sama saja. Meskipun dari posisi awal saya di ruang tamu HMI saya kekurangan wacana yang istilahnya kekiri-kirian. Dan itu saya peroleh sedikit ketika membuka lembar demi lembar bacaan-bacaan di perpus dan beberapa buku yang saya koleksi dari hasil pembagian kiriman untuk jajan perbulan saya.
            Karena bosan dan tidak tahu harus kemana saya mendiskusikan hasil bacaan, maka saya mencoba kembali masuk ke rumah pertama itu. Tapi memang sama saja, saya mendapati ruang tamu yang tiada perubahan. Kekecewaan saya semakin meningkat. Lalu timbul pertanyaan dari dalam diri saya sendiri. Lah, katanya di HMI semuanya dapat diperoleh (insya Allah), tapi kenapa yang saya cari tidak saya temukan juga. Sampai akhirnya membuka obrolah dengan salah satu pengurus di sana. Dia cukup terbuka. Kebetulan dia adalah salah satu pembimbing saya selama saya di sini. Saya tertarik kepada buku-buku juga atas dorongan beliau yang tak bosan-bosan mengasupi saya.
\           dari situ saya akhirnya sadar bahwa ketika saya hanya menunggu di ruang tamu, saya hanya akan menerima asupan-asupan halus dan formalitas dari para penghuni. Sementara yang saya cari adalah racikannya, maka saya harus ke dapurnya. Dari situ kemudian saya semakin sadar bahwa yang dimaksud HMI menyediakan banyak bahan dan silahkan mencomot  salah satunya adalah hanya akan diperoleh ketika kamu berani masuk ke dapurnya.
            Tipe-tipe orang masuk HMI itu pun beragam. Ada yang masuk setelah dari ruang tamu kemudian memilih diam usai berbelok ke salah satu kamar dan ada juga yang berusaha menjelajahi setiap kamar. Dan kenikmatan ber-HMI akan kamu peroleh ketika kamu tahu racikan dan cara meracik bahan yang ada di HMI.
            Akhirnya aku kecewa lagi. Kali ini aku kecewa pada diriku sendiri. kenapa tidak sejak dahulu ketika awal masuk menjadi kader saya melakukan hal demikian. Saya sangat kecewa tidak banyak mengeksplor pengetahuan dari para senior di sini. Luasnya pengetahuan ternyata memang saya dapat peroleh dair sini. Pengetahuan yang berangkat dari beragam kader. Beragam suku, latar belakang pendidikan dan bermacam kecenderungan.
            Kekecewaan saya tidak akan terbalas karena saya sudah banyak melewatkan waktu sebagai kader secara Cuma-Cuma tanpa berusaha mengais lebih banyak lagi ilmu pengetahuan sejak awal. Sekarang sudah semester pertengahan menuju semester tua dan saya menyesali akan hal itu.
            Carilah passion-mu sendiri. pintu kamar di HMI insya Allah menyediakan itu. Dan itu tidak hanya dapat kau cari di salah satu komisariat semata, melainkan di seluruh komisariat yang memiliki pertaliannya. Selain itu, relasi pun akan semakin bertambah luas dengan seringnya kamu ikut terlibat walau hanya dalam diskusi kecil di warung kopi. Saya akhirnya sadar bahwa ajakan ke meja kopi bukan sekadar ajakan kangen fisik tapi ajakan asupan intelktual.
            Meskipun kemudian sekarang dibenturkan dengan istilah “kultur” bahwa tidak semua kader suka diskusi. Tapi paling tidak, setiap kader memiliki asupan intelektual dengan gradasi yang memang sudah pasti berbeda-beda.

“Bangunlah jembatanmu yang terputus sebagia akibat dari kecewa dengan membaur kencan pada gelap malam berterang lampu kuning berhias gelas warna di depanmu”

"kecewa bukan sekadar rasa, ia adalah realitas masalah diri yang harus dijawab dengan tindakan positif"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku

  Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku Oleh: Wa’u Hadir di dalam gelap memang selalu membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki pun enggan melangkah. Malam adalah kawan bagiku menapaki setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku. Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri. Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang ...
IPMMY    Sabtu 9 Desember 2017, IPMMY atau singkatan dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta melaksanakan rapat, yaitu sekitar pukul 20:30. Rapat kali ini adalah sebuah rapat lanjutan dari rapat yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu. Rapat IPMMY pada malam minggu ini dihadiri oleh tiga belas orang dari berbagai angkatan. Mulai dari angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, dan juga 2017. Rapat ini dipimpin langsung oleh katua IPMMY, yaitu Muhammad Ikhsan. Meskipun sebenarnya, masa kepemimpinan ataupun periode kepengurusannya bersama dengan teman-teman pengurus yang lain telah berakhir, namun karena belum adanya pergantian atau belum dilaksanakannya MUBES (musyawarah besar) sebagai agenda tahunan untuk melakukan regenerasi kepengurasan, maka untuk pembahasan makrab sampai terlaksananyan makrab pada tahun ini masih tetap dipegang dan diamanatkan kepada pengurus yang lama. Pertama-tama, ketua ikatan pelajar daerah, khususnya daerah Majene, Muhammad Ikhsan sam...

rusak bukan buta

RUSAK BUKAN BERARTI BUTA Oleh: Wa'u    Sudah berderet kasus yang menimpa para aktivis bangsa. Mereka, sejatinya adalah orang-orang yang gandrung akan penegakan keadilan di bumi Indonesia. Merekalah para pengisi kemerdekaan yang dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai orang-orang yang melawan bangsanya sendiri. Bangsa yang dimaksud di sini ialah para penguasa yang penakut untuk mengungkap kasus-kasus sosial kemanusiaan. Tidak dipungkiri bahwa para pengusa adalah para penakut untuk membongkar kejahatan. Mereka takut kepada para oligark di belakangnya. Upaya membongkar kejahatan memang sesuatu hal tampak mudah namun dalam prosesnya membutuhkan keberanian yang tinggi. Ancaman akan segera menghujani ketika ada seseorang yang memiliki semangat keadilan dan mengupayakan pembongkaran kejahatan yang dilaukan elit. Salah satu kejahatan nasional yang sangat merugikan negara adalah korupsi yang dilakukan oleh aparat negara. Sangat disayangkan apabila para penguasa yang pada dasarn...