Langsung ke konten utama

KAPITALISASI PENDIDIKAN DI UII


KAPITALISASI PENDIDIKAN DI UII
OLEH: WA’U
            Universitas Islam Indonesia atau dikenal dengan singkatan UII merupakan perguruan tinggi pertama yang dibangun oleh anak-anak bangsa Indonesia. Keberhasilannya dalam mengembangkan pendidikan pada anak bangsa sudah tidak diragukan lagi. UII lahir pertama kali di bumi pertiwi dengan nama STI (Sekolah Tinggi Islam) di Jakarta pada tanggal 8 Juli 1945, sebelum dibacakannya proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno yang didampingi Bung Hatta. Yang kemudian berpindah ke Yogyakarta pada tahun 1946.
            Sebagai Universitas yang berlafaskan Islam yang menjunjung tinggi nilai keislaman, mungkin akan terbesit pertanyaan pada beberapa individu atau pun mungkin kita semua. Kenapa seseorang harus mengeluarkan harta yang cukup banyak untuk dapat mengenyam pendidikan di universitas ini. Bukankah, jika memang ia menjunjung tinggi nilai keislaman harusnya ia lebih mempermudah bagi kalangan mana pun di masyarakat untuk dapat menuai pendidikan di sini? Atau mungkin pertanyaan tentang saham-saham yang dimiliki UII di berbagai sektor pengembangan ekonomi? Lalu kenapa SPP yang harus dibayarkan masih tetap terbilang tinggi alias mahal?
            Sebagai universitas swasta dengan rating yang cukup tinggi di kancah nasional, UII sudah melahirkan banyak tokoh bangsa yang mengawal bahkan sebagai pemangku kebijakan di pemerintahan. Banyak kemudian para orang tua berniat besar menekankan agar anak-anaknya dapat kuliah di UII dengan harapan agar anaknya kelak dapat menjadi orang besar sebagaimana tokoh negara yang pernah disaksikannya. Meskipun kemudian mereka tidak melihat bagaiamana proses pendidikan yang dilakukan oleh orang-orang besar tersebut ketika dalam satu masa dengan ia menempuh pendidikannya di universitas ini. Tentu poin yang ingin disampaikan pada tulisan ini bukan pada ranah itu, karena yang ingin disampaikan sebenarnya adalah perhitungan ekonomi pendidikan di UII.
            Kembali pada pertanyaan-perntanyaan tua di atas. UII, sekarang sudah tidak diragukan lagi dalam penanaman saham, contoh paling konkrit adalah rumah sakit besar yang baru saja diresmikan yang kemudian banyak dikritisi oleh mahasiswa bahwa itu bisa jadi adalah bentuk penggunaan dana mahasiswa kepada hal lain dan tidak berbenturan dengan mahasiswa secara langsung. Sehingga pembayaran SPP dan atau uang kuliah pun masih tetap mahal, bahkan semakin bertambah setiap tahun. Jadi, wajar jika dikatakan bahwa UII memang terlalu kapitalis terhadap pendidikan yang ada.
            Tujuan negara Indonesia yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945 pada alenia ke-4, salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi dengan adanya kapitalisasi pendidikan yang begitu marak, akankah cita-cita yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa ini akan terpenuhi? Saya pikir tidak. Karena yang akan mengenyam pendidikan adalah orang-orang yang berpunya saja. Sedangkan yang termasuk dalam kategori anak bangsa bukan hanya dari kalangan itu. Masih banyak kalangan lain yang juga memiliki hak yang sama untuk dapat menikmati pendidikan seperti itu. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah anak-anak yang tinggal di jalanan. Bukankah mereka juga adalah anak-anak bangsa yang harusnya dijamin oleh negara untuk mengemabngkan pemikirannya agar menjadi mannusia-manusia cerdas, sebagaimana yang ada dalam UUD 1945 bagian Hak Asasi Manusia yang tercatat dalam pasal 28 C ayat 1 “setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan tekhnologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia
            UII sebagai salah satu perguruan tinggi swasta yang selai dikenal masyarakat sebagai salah satu ladang besar yang melahirkan tokoh-tokoh besar juga terkenal dengan biaya pendidikannya yang mahal (kampus mahal) dan dapat dikatakan hanya terjangkau oleh orang-orang dari kalangan menengah ke atas saja. Baiklah, pernyataan seperti ini kemudian akan dijawab oleh pihak kampus dengan jawaban kira-kira seperti ini “penyediaan lapangan pendidikan di UII tidaklah benar jika dikatakan bahwa UII hanya disediakan bagi kalangan menengah ke atas, buktinya ada beberapa beasiswa yang disediakan bagi yang punya skil dan sesuai dengan kriteria yang diharapkan untuk menerima bantuan pendidikan itu” tapi kalau memang jawabannya seperti itu, maka yang harus diperhatikan adalah proses pendidikan sejak awalnya, yaitu tentang siapa sebenarnya para penerima beasiswa itu, bukankah mereka memang sudah belajar dengan baik sejak sekolah dasar sampai sebelum menerima fasilitas beasiswa itu? Fasilitas pendidikan mereka sudah bagus sejak awal.
            Tak jarang kemudian banyak mahasiswa yang memilih untuk beralih dan beranjak dari kampus ini dan mencari kampus lain. Kalau butuh contoh, sekiranya diperlukan. Saya akan ambil dari beberapa teman-teman satu jurusan saya sendiri. Tapi saya pikir itu tidak harus dibahas di sini. Karena yang menjadi fokus utama kita adalah tentang kapitalisasi pendidikan di UII dan pada banyak universitas di Indonesia yang mungkin belum sepenuhnya sadar arti penting dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
            Kampus UII sudah terlalu kaya. Jangan heran ketika dalam perjalanan anda menemui suatu bangunan yang ada kaitannya dengan identitas kampus ini. Sahamnya banyak. Saham yang hasilnya belum mampu menjawab solusi dari mahlanya pendidikan di sana.
            ketika ada sekelompok mahasiswa yang mempertanyakan tentang biaya pendidikan di Universitas Islam Indonesia. Sebelum pembahasan dari mahasiswa ini sampai dibicarakan pada tataran pemerintahan kampus, malah di kalangan mahasiswa sendiri sudah terjadi percekcokan. Ada yang menajwab dengan jawaban yang cukup pragmatis “kalau gak mau bayar mahal-mahal, ya gak usah kuliah di UII” itu contoh jawaban yang sering terdengar telinga ketika mendiskusikan masalah ekonomi perbaikan pendidikan di UII. Tentu jawaban itu ada beanarnya juga, tapi tidak ada salahnya juga untuk mempertanyakan tentang kenapa pendidikan kita di sini begitu mahalnya hingga banyak kalangan yang sukar menjangkaunya.
            Di sini kita tidak akan mencari oknum yang akan dipersalahkan dan dituntut untuk menjawab persoalan ini. Karena memang tidak penting untuk dibahas. Bukan lagi waktunya untuk saling mempersalahkan. Tapi mengkaji problem lalu merumuskan solusi adalah lebih baik. Jangan sampai waktu yang ada, terpakai secara Cuma-Cuma hanya untuk mencari kesalahan orang lain, lalu emngutuknya habis-habisan. Itu bukan cara yang diajarkan dalam Islam sebagai basis dari salah satu kata berkembangnya UII dan juga umat Islam di seluruh dunia. Islam mengajarkan kedamaian dan tetap bersikap baik bahkan kepada kejahatan sekalipun, jika memang itu masih dapat ditolerir.
            Pembangunan terus menerus dilakukan oleh pihak kampus untuk memperbaiki fasilitas yang lebih layak bagi jalannya pendidikan di kampus ini. Apa yang menjadi pertanyaan mahasiswa tidaklah dapat dipersalahkan. Mereka pun berhak mengetahui kenapa biaya yang harus mereka keluarkan begitu besarnya untuk menempuh pendidikan di UII. Kalau jawaban yang disampaikan akan sama seperti jawaban suadara mahasiswa yang ada di atas dan dijadikan contoh itu. Itu tentu tidak akan menajwab pertanyaan. Karena itu hanya konsekuensi ketika masuk di UII. Kita memang sudah tahu bahwa kuliah di UII adalah mahal. Tapi pertanyaannya adalah kenapa bisa sebegitu mahalnya?
            Kepada teman-teman sekalian. Kampus kita sedang dan masih terus berbenah untuk kepentingan pembangunan. Yang menjadi dan akan menjadi mahasiswa bukan hanya pada periode kita tapi adik-adik, anak cucu kita juga kelak akan memperoleh hak yang sama, yaitu mengenyam pendidikan sebaik-baiknya untuk upaya pencerdasan kehidupan bangsa.
            Jika yang kita saksikan sekarang adalah pembangunan gedung dan juga pembenagunan pada beberapa sektor usaha. Itu adalah kewajaran. Saya pikir, tidak ada yang menginginkan kapitalisasi pendidikan itu. Hanya saja, keadaan yang mengkondisikan untuk dilakukan hal-hal yang disebutkan di atas itu.
            Ketika yang kita saksikan adalah pembangunan gedung. Ya, memang itu adalah upaya perbaikan fasilitas dan untuk menempatkan pendidikan di UII agar terpadu di Jalan Kaliurang. Tidak ada yang dapat dipersalahkan tentang pembangunan ini. Tempat belajar adalah salah satu aspek penunjang untuk memperoleh pendidikan yang layak bagi masyarakat. Dalam hal ini, mahasiswa UII. Tanpa adanya gedung, proses pendidikan dan sharing ilmu akan semakin sulit dilakukan. Ruang kuliah itu urgent untuk memberikan efek kenyamanan dalam proses belajar mahasiswa, juga bagi dosen.
            Lalu kita beranjak pada kritik kita terhadap pembangunan pada ranah invesatsi kampus. Yang sempat disebutkan di atas adalah rumah sakit. Saya pikir, sebagai kampus swasta memang wajar untuk menanam saham di berbagai lini untuk menjalankan roda ekonominya yang mandiri. Tanpa itu, kampus akan menjadi miskin, lebih parah adalah bangkrut. Pembangunan pada sektor ini bukan tanpa arti. Malah ini harus diapresiasi. Para pimpinan kita di kampus ternyata sudah mampu membaca situasi ke depan dengan master plan yang sangat bagus sehingga saya mengatakan bahwa memang kita patut mengapresiasi itu.
            Di atas sudah saya sampaikan juga bahwa yang menjadi dan akan menjadi mahasiswa bukan hanya pada periode kita yang sekarang. Tapi juga sampai beberapa periode setelah ini. Mereka yang juga memiliki hak memperoleh pendidikan terbaik.
            Apabila pembangunan gedung sudah selesai dibuat dan semua fakultas sudah tergabung dalam suatu tempat secara terpadu, maka beban pembangunan gedung untuk menciptakan fasilitas ruang kelas sudah terpenuhi. Berarti dana pembangunan akan semakin berkurang. Yang tersisa hanyalah untuk renovasi dan sedikit penambahan saja, yang jumlahnya tidak sedemikian besar lagi. Artinya kampus sudah berhasil menyiapkan fasilitas gedung untuk kenyamanan belajar di UII.
            Kemudian, jika gedung sudah jadi dan selesai dibangun. Aliran-aliran dana akan tersalur masuk melalu jaringan-jaringan saham yang juga sudah dipersiapkan sejak awal tadi. Dana-dana hasil saham akan tersimpan rapih untuk kepentingan renovasi dan sedikit perbaikan tadi. Nantinya ini diharapkan akan berimbas pada berkurangnya pembayaran uang kuliah secara drastis. Yang laing baik adalah ketika pendidikan menjadi gratis di Universitas Islam Indonesia.
            Yang akan menikmati hasil yang diharapkan dapat tercapai itu adalah generasi yang akan datang. Jangan bersedih hati ketika tidak dapat menikmatinya karena kita adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang memberikan andil dalam upaya pendidikan gratis demi terwjudnya tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allas swt melalu pengemabngan pendidikan yang semakin berkemajuan ini. Kita menjadi agen perubahan dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa dengan sumbangsih pembayaran kuliah mahal dengan alasan menyelamatkan generasi-generasi berikutnya agar tidak lagi terpapar pada kapitalisai pendidikan di UII hingga kancah nasional maupun internasional.
            Entah kapan pembangunan itu selesai. Ya itu tidak dapat dipastikan. Tapi dapat diprediksi bahwa pada sekitar tahun 2050-an. Sama-sama kita mengaminkan, semoga saja pendidikan di UII sudah dapat ditempuh dengan gratis. Paling tidak, dengan adanya pengurangan biaya pendidikan sampai sekitar 80% dari biaya pendidikan yang dijalankan saat ini di tahun 2019.k
            Pesan kepada kampus yang masih terus berbenah. Kami kekurangan ruang publik untuk kami dapat menghidupkan diskusi di sini. Kami butuh itu. Di mana ruang-ruang intelektual itu akan menjadi tempat berbagi untuk kami saling bertukar pikiran dan membicarakan banyak hal. Jangan desain kami menajadi mahasiswa yang setelah kuliah langsung pulang ke kamar kos masing-masing. Kami kesusahan menggunakan kantin untuk dijadikan ruang diskusi karena terbentur dengan kondisi bahwa usai menikmati hidangan di sana, segera kami harus beranjak dari sana dan berganti dengan mahasiswa lain. Begitulah siklus kami di kantin pak, bu. Kami tidak dapat mempergunakannya untuk untuk diskusi. Kami tidak boleh egois, lalu acuh terhadap mahasiswa lain yang punya kebutuhan untuk menempati tempat itu juga guna mengenyangkan perut. 
       
       RUANG PUBLIK YANG KAMI HARAPA MENOREH KERTAS WALAU SECARIK, BUKAN HANYA TAMAN BUNGA DI PINGGIR JALAN YANG MENGANGA SEBAGAI HIAS.

“TULISAN INI TIDAK BERMAKSUD MENYINGGUNG SIAPA-SIAPA. INI HANYA BENTUK UPAYA MENGASAH PEMIKIRAN UNTUK MENJADI PEMIKIR YANG RADIKAL DALAM SEGALA HAL DAN MENCARI PROBLEM DAN BERUSAHA MEMBERIKAN SOLUSI TERHADAPNYA. TERMIKASIH PARA PEMCARA YANG SUDAH BERPERANG MELAWAN EGO UNTUK TIDAK MEMBACA. KALIAN ORANG HEBAT YANG SAYA HARAP AKAN TERUS BERKARYA”

MEMBACA, ANALISIS, MENULIS BUKAN SEKADAR EKSISTENSI TAPI UPAYA MENGHIDUPKAN DIRI SEBAGAI SEORANG MANUSIA, BUKAN BINATANG JALANG YANG BISANYA MAKAN, TIDUR LALU MATI

#yakusa
           



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku

  Hangatnya Balutan Selimut dalam Kamar gelapku Oleh: Wa’u Hadir di dalam gelap memang selalu membawa misi bagi aku yang manusia dalam usaha dan fasilitas serta keterbatasan pikir agar dapat menjangkau dan menelisik ke mana akan melangkah dengan terlebih dahulu mencari arah dari titik-titik cahaya. Terang atau redup adalah urusan belakang, yang terpenting adalah melangkah untuk kian mendekat kepada titik di mana sebuah cahaya seakan memberi tuntunan yang memanggil untuk didekati dan kemudian membawa keluar dari gelap yang telah menyiksa hingga kaki pun enggan melangkah. Malam adalah kawan bagiku menapaki setiap inci sesuatu yang ada dan dapat dijangkau kesadaran pikir dalam diriku. Meski pada dasarnya aku pun belumlah sepenuhnya paham tentang siapa dengan mengapa ada aku yang hingga sekarang belum mampu memahami diriku sendiri. Ketenangan yang dihantarkan oleh gelap malam bersama angin yang kadang membuat kulitku mengkerut keriput ternyata juga membawa damai hingga aku kadang ...
IPMMY    Sabtu 9 Desember 2017, IPMMY atau singkatan dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta melaksanakan rapat, yaitu sekitar pukul 20:30. Rapat kali ini adalah sebuah rapat lanjutan dari rapat yang telah dilakukan beberapa hari yang lalu. Rapat IPMMY pada malam minggu ini dihadiri oleh tiga belas orang dari berbagai angkatan. Mulai dari angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, dan juga 2017. Rapat ini dipimpin langsung oleh katua IPMMY, yaitu Muhammad Ikhsan. Meskipun sebenarnya, masa kepemimpinan ataupun periode kepengurusannya bersama dengan teman-teman pengurus yang lain telah berakhir, namun karena belum adanya pergantian atau belum dilaksanakannya MUBES (musyawarah besar) sebagai agenda tahunan untuk melakukan regenerasi kepengurasan, maka untuk pembahasan makrab sampai terlaksananyan makrab pada tahun ini masih tetap dipegang dan diamanatkan kepada pengurus yang lama. Pertama-tama, ketua ikatan pelajar daerah, khususnya daerah Majene, Muhammad Ikhsan sam...

rusak bukan buta

RUSAK BUKAN BERARTI BUTA Oleh: Wa'u    Sudah berderet kasus yang menimpa para aktivis bangsa. Mereka, sejatinya adalah orang-orang yang gandrung akan penegakan keadilan di bumi Indonesia. Merekalah para pengisi kemerdekaan yang dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai orang-orang yang melawan bangsanya sendiri. Bangsa yang dimaksud di sini ialah para penguasa yang penakut untuk mengungkap kasus-kasus sosial kemanusiaan. Tidak dipungkiri bahwa para pengusa adalah para penakut untuk membongkar kejahatan. Mereka takut kepada para oligark di belakangnya. Upaya membongkar kejahatan memang sesuatu hal tampak mudah namun dalam prosesnya membutuhkan keberanian yang tinggi. Ancaman akan segera menghujani ketika ada seseorang yang memiliki semangat keadilan dan mengupayakan pembongkaran kejahatan yang dilaukan elit. Salah satu kejahatan nasional yang sangat merugikan negara adalah korupsi yang dilakukan oleh aparat negara. Sangat disayangkan apabila para penguasa yang pada dasarn...