PARA PEJABAT YANG GELAGAPAN
Oleh: wa’u
Sebuah
pernyataan yang sungguh tidak patut dikeluarkan dari mulut seorang pejabat
negara (akan memberikan sanksi tegas kepada dosen dan atau rektor yang
membiarkan mahasiswanya turun ke jalanan melakukan demonstrasi) Pernyataan itu
jelas bersebrangan dengan prinsip demokrasi. Bagaimana mungkin seorang dosen
yang memberikan izin kepada para mahasiswanya ikut serta dalam aksi massa di
jalanan dapat dikenakan sanksi?
Meskipun memang beliau kembali menekankan bahwa
yang diamksud adalah perusakan ketika aksi. Tapi ini tetap tidak bisa diterima.
Siapa yang bisa yang mengetahui bahwa dalam aksi akan terjadi perusakan seperti
ketika aksi dilakukan di depan gedung DPR tanggal 24 September lalu? Bukankah para
aparat juga ikut andil dalam permainan itu?
Kemudian
dikatakan bahwa sanksi akan diberikan pula kepada rektor yang tidak menindak
tegas para dosen yang memberikan izin tersebut. Lalu bagaimana dengan
kampus-kampus yang dengan jelas rektornya mengeluarkan pernyataan sikap untuk
tidak akan melarang mahasiswanya turut serta dalam pesta demokrasi yang
sesungguhnya ini.
Menurut
penuturannya, ruang dialog masih terbuka, jadi jangan sampai mahasiswa di
kampus turun ke jalanan, bergerak melakukan demonstrasi dan melakukan kekacauan.
Tentu semua setuju untuk tidak melakukan kerusakan di tempat demonstrasi. Tapi bagaimana
jika keadaan malah diperpanas dengan berbagai adegan di sana. Ingat, mahasiswa
tidak ada yang membawa senjata tajam. Jangankan pistol, pisau saja tidak ada. Makanya
jangan heran ketika ada kericuhan dalam aksi demonstrasi, yang menjadi senajta
utama mahasiswa adalah batu yang melayang-layang di udara.
Namun
yang tidak dapat diterima nalar demokrasi adalah untuk tidak turun, bergerak di
jalanan melakukan aksi massa. Bagaimana mungkin di sebuah negara demokrasi bisa
mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang demikian? Itu adalah bentuk perobekan
terhadap demokrasi itu sendiri. Jika demokrasi adalah sebuah benda, tentu ia
sudah merintih terhadap pernyataan yang melukai dirinya itu. Karena demonstrasi
adalah salah satu hal yang ditunggangi sejak kelahirannya, dan sekaligus
menjadi wadah masyarakat untuk dapat menyampaikan aspirasinya kepada
pemerintah.
Kalau
pun memang para rektor yang tidak mengikuti apa yang diminta, ini akan
diberikan sanksi. Lalu sanksi apa yang akan diberikan. Sanksi paling beratnya
apa, bagaimana mungkin kesalahan orang lain dapat dilimpahkan
pertanggungjawaban keapda yang lain. Dan apa pula tolak ukur untuk
mempidanakannya.
Lagi pula,
jika memang ruang dialog masih ada, hal itu tidak harus dilakukan di istana. Tapi
hadirilah mimbar yang disediakan di tengah-tengah para demonstran. Para mahasiswa
akan mendengarkan apa yang hendak disampaikan, tentunya dengan berbagai
pertanyaan yang menggelora di dalam kepala.
Buktinya,
tidak ada yang berani menemui massa aksi ketika terjadi demonstrasi
besar-besaran itu. Justru yang hadir di sana malah water canon. Menyiram dan memaksa mundur massa aksi. Peluru senjata
pun tak jarang melayang hingga ada yang menancap di tubuh salah satu atau
beberapa mahasiswa yang melakukan aksi.
Mahasiswa
yang melakukan demonstrasi tidak sepenuhnya dapat disalahkan ketika ada
kericuhan dalam berdemonstrasi. Coba perhatikan pula aparat yang katanya akan
mengamankan dan mengawal jalannya akasi tersebut. Mereka malah tampak bengis
menembakan peluru kepada mahasiswa yagn tergabung dalam massa aksi itu.
Kepada
organ pemerintah, biarkanlah proses demokrasi ini berjalan sebagaimana adanya. Tidak
perlu mengeluarkan statement yang
seakan-akan melarang adanya demonstrasi. Tidak perlu mengancam para rektor yang
membiarkan atau memberikan izin kepada mahasiswanya menyampaikan aspirasi. Kalau memang kalian yang duduk di kursi
pemerintahan merasa getar ketika mahasiswa dalam jumlah besar turun
bersama-sama di jalanan dan dilakukan di berbagai wilayah. Jangan salahkan
ketika kecurgiaan justru akan semakin meningkat, hadir di dalam benak kami yang
melakukan demonstrasi.
Jika
memang tidak merasa bersalah, temuilah massa aksi dan berikan penjelasan yang
detail tanpa ragu kepada mereka. Tentu ketika para mahasiswa paham dengan apa
yang disampaikan, dengan sendirinya mereka akan redam. Dan kembali ke kampus
masing-masing usai menerima jawaban dari kalian. Tapi kalian juga harus
menjawab sederet pertanyaan dari mereka.
Betapa
lucunya negri demokrasi jika hak-hak menyampaikan pendapat dan mempertanyakan
kebijakan pemerintah harus dibatasi lalu diberikan ancaman. Mahasiswa butuh
jawaban yang argumentatif. Bukan jawaban yang menakut-nakuti massa aksi,
apalagi rakyat.
Saya
teringat dengan statement salah satu
dari oknum pemerintah juga yang mengatakan bahwa para demonstran ini
ditunggangi oleh oknum-oknum radikal. Kalau dipikir-pikir lagi. Masa iya,
mahasiswa begitu bodoh akan ditunggangi oleh oknum yang tak suka pemerintah. Ditambah
lagi bahwa aksi yang sangat besar ini dilakukan di berbagia daerah secara
bersamaan. Rasa-rasanya, hal ini termasuk dalam sebuah kata kemustahilan.
Pun
kalau hal itu memang benar adanya. Sialhkan dibuktikan, jangan hanya berbicara
di depan media untuk kemudian didengarkan oleh seluruh elemen masyarakat. Tapi tidak
jadi sebuah masalah. Hal ini justru kembali mempertontonkan betapa pemerintah
sudah sedemikian takutnya dengan adanya aksi massa ini.
Mahasiswa
hanya menuntut apa yang mereka ingin tuntu dan meminta kejelasan mengenai
tuntutan mereka. Buktikanlah tuduhan itu wahai bapak yang terhormat, silahkan. Kami
yang di jalanan melakukan demonstrasi tidak akan mengahlangi sedikit pun ketika
bapak ingin membuktikan pernyataan bapak itu.
Sekali
lagi. Tidak perlu ada ancaman kepada pihak rektor maupun dosen ketika
mahasiswanya turun melakukan aksi. Tuntuan mahasiswa mereka itu substansial,
bukan gerakan subversif yang hendak melakukan kudeta kepada pemerintah. Biarkan
ruang demokrasi terbuka lebar di kampus, jika memang tidak bisa leluasa berlaku
di ranah negara.
Aspirasi
mahasiswa itu pun untuk kesejahteraan rakyat. Buat apa kami belajar jika
tuntuan dari hasil diskusi saja tidak mau didengarkan. Katanya ingin
mencerdaskan kehidupan bangsa. Tuntuan kami bukan semata kepentingan mahasiswa,
tapi demi kepentingan rakyat yang di bawah. Dan sebagian dari kami ada di sisi
mereka dan kami merasakan dampak dari kebijakan tersebut. Silahkan dibuktikan
secara rinci jika memang apa yang menjadi kebijakan-kebijakan itu benar untuk
kepentingan rakyat dan demi kehidupan bernegara yang lebih baik!.
Rakyat
yang dengan pengetahuan sedikit, tidak semuanya mampu membaca dan tidak
semuanya mampu memahami apa yang kalian keluarkan sebagai kebijakan. Tapi mereka
bisa merasakan adanya pergerakan sedikit-demi sedikit imbas dari apa yang
kalian tulis di kertas-kerta bertebaran di meja itu. Hargailah rakyat, karena
tanpa rakyat, negara ini tidak akan ada. Tentu tuan-tuan yang di sana jauh
lebih paham tentang ini, tapi belum tentu lebih sadar daripada mahasiswa yang
melakukan aksi massa berkahir maut di jalanan.
Mari
bersama berbenah, negri kita sedang melarat. Demokrasi menangis, tak dihargai
dengan baik. Jangan sekali-kali melarang aksi karena itu bisa berakibat fatal
bagi berjalannya sistem demokrasi di negri ini. Dan kepada para rektor dan
dosen. Kalian adalah orang-orang hebat dengan intelektual yang tinggi. Kami yakin,
kalian tidak akan sebodoh itu menuruti permintaan dari pemerintah kita itu.
tanpa mengurangi rasa hormat, kami kirimkan tulisan cinta ini kepada seluruh kalang yang merasa bersangkutan dengan apa yang tertulis di dalamnya. kami hanya menyampaikan apa yang menjadi kegelisahan kami. dan menjadi sebuah kewajaran bagi kami sebagai bagian dari rakyat untuk menyuarakannya kepada kalian yang kami beri amanah mewakili kami sebagai representasi dari kedaulatan rakyat. ya, benar. kepada kalian yang berdasi kami menitipkan demokrasi dijalankan.
Komentar
Posting Komentar