DUALITAS PADA TEORI
PLATON DAN TEORI RASIONAL
oleh: Iswan
DESKRIPSI
Dalam
upaya mengkritik suatu teori, maka harus diketahui terlebih dahulu adalah alur
pemikiran dari teori itu sendiri. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam
mengkritik karena sudah satu frame dengan apa yang diungkapkan dalam teori
tersebut. Pekerjaan yang dilakukan ini kemudian disebut sebagai tasawwur.
Karena untuk menilai sesuatu, kita harus paham terlebih dahulu mengenai
konsepnya.
1. Teori Platon
Dualitas
yang didapati pada teori ini adalah bentuk ketikmampuan akal dalam merancang
segala ide/pengetahuan untuk disatukan pada satu sumber yang sama. Teori Platon
sendiri mengatakan bahwa segala yang ada di realitas itu hanya sebagai cerminan
agar kita dapat mengingat kembali pengetahuan-pengetahuan yang sudah diperoleh
ketika jiwa belum menyatu dengan tubuh. Pengetahuan yang diperoleh jiwa
tersebut dikatakan berasal dari alam arketipe.
Jiwa
sudah ada, jauh sebelum tubuh ini ada. Dan jiwa sudah mengetahui segala sesuatu
sebelum akhirnya dia lupa ketika masuk ke dalam tubuh manusia. Sehingga ia
membutuhkan media untuk mengingat kembali atas apa yang pernah diperoleh ketika
masih di alam arketipa. Media itulah yang sekrang kita saksikan di alam
realita.
Pengetahuan
bukan berasal dari alam realitas atau materi. Sifatnya yang terus berubah
mengakibatkan ia tidak dapat dijadikan acuan untuk dijadikan sebagai sebuah
pengetahuan. Ia bersifat materi atau fisik. Sedangkan sifat fisika itu sendiri
adalah bergerak dan berubah. Pengetahuan adalah yang berasal dari ide bawaan (innate
idea), yang diperoleh jiwa melalui alam arketipe.
Peroses
mengingat ini sebagai bentuk mengetahui kembali dengan melihat realitas sebagai
acuan untuk mengingat. Sumber pengetahuan dari realitas terstruktur dari alam
kemudian dipersepsi melalui indrawi dan membentuk suatu gambaran yang
dikonsepsi. Alam realitas jelas memiliki bentuk, warna dan massa. Berbeda
dengan alam ide yang hanya memiliki gambaran dan warna yang nyata, alam ide
tidak memiliki massa, itulah sebabnya ketika kita mengingat gunung, ia begitu
nyata namun tidak berat lalu kita bisa membawa gunung Merapi ke mana-mana dalam
alam ide. Alam arketipe dan alam realitas itu sama sekali berbeda. Sehingga
lahirlah teori dualitas.
2. Teori Rasional
Teori
ini tidak jauh berbeda dengan teori Platon. Yang juga ada dualitas di dalamnya.
Hanya saja, berbeda pada segi sumber pengetahuan atau sumber konspesinya. Jika
Platon mengatakan bahwa sumber konsepsi berasal dari realitas/ alam dan juga
alam arketipe. Maka teori rasional mengatakan bahwa sumber konsepsi yang
dualitas itu berasal dari dalam diri manusia sendiri.
Teori
Rasional mengatakan bahwa sumber konsepsi itu ada dari alam realitas dan dari
alam ide atau innate idea. Kedua sumber konsepsi ini berbeda sama
sekali, sehingga dari sini ditarik pula bahwa ia termasuk dalam dualitas. Tidak
ada kesamaan antara keduanya. Ada konsep yang datang begitu saja dan tidak
dapat dibuktikan pada realitas, lalu dikatakanlah bahwa ia bersumber dari
rasio. Contoh ide yang berasal dari realitas adalah konsep tentang panas, warna
dan beberapa hal lain yang nyata di realitas. Sedankan contoh ide yang tidak
didapati pada realitas adalah ide tentang ruh, Tuhan dan beberapa ide lainnya
yang tidak dapat dijumpai dalam realitas.
ANALISIS
Setelah menikuti jejak cara berpikir dari kedua
teori pemikiran di atas akhirnya diketahui bahwa dari kedua teori tersebut
tidak memberikan penjelasan yang real terhadap langkah-langkah penurunan ide
bawaan tersebut untuk kemudian berubah menjadi sebuah konsep. Tidak ada juga
penjelasan mengenai posisi alam ide itu sebenarnya. Alam arketipe, misalnya. Di
sana sama sekali hanya di katakan bahwa alam arketipe adalah alam yang jauh di
sana dan hanya bisa diujmpai oleh jiwa. Tapi jiwa hanya dapat mencapai alam
arketipe jika jiwa bepisah dengan tubuh.
Dua
orang pengikut teori rasional; Rene Descartes dan Immanuel Kant sekalipun,
tidak dapat menjelaskan secara rinci mengenai apa yang sebenarnya dimaksud
dengan ide bawaan ini, terlihat ketika mereka pun berbeda dalam penentuan
mengenai hal apa saja yang termasuk dalam kategori ide bawaan. Hal ini berarti
juga bahwa masih ada kejanggalan dari ide bawaan yang dimaksud dalam teori
rasional itu sendiri. Meskipun memang keduanya meyakini ada dua sumber konsepsi
dan itu terpisah.
Jika
memang manusia sudah memiliki ide bawaan, berarti dia sudah memiliki
pengetahuan sejak lahir, bahkan harusnya sudah ada sejak masih dalam kandungan.
Dan jika memang ide tentang Tuhan itu adalah ide bawaan, otomatis anak kecil
yang baru lahir sekalipun itu sudah harus memiliki konsep tentang Tuhan. Tidak harus
menunggu ia dewasa. Itu bukan masalah ketika kaum rasional mengatakan bahwa
anak kecil tersebut belum tahu karena belum memiliki sandarac di realitas. Atau
kaum Platon misalnya ingin mengatakan bahwa anak kecil itu belum melihat adanya
alat pengingat. Namun, bukankah konsep tentang Tuhan dan juga tuh itu tidak
membutuhkan hal dari luar? Dan memang tidak ada penyartiran di luar?
PERNYATAAN
Hal ini perlu
kita perhatikan bersama agar tidak serta merta terjatuh pada cara berpikir
kedua teori tersebut di atas. Dan, tanpa kita mengetahui cara berpikir suatu
teori maka kita tidak dapat menghukuminya atau tidak dapat mentasdiq-nya. Bisa jadi
kita malah harus turut serta, lalu tunduk pada teori tersebut sebab kita tidak
ada argumentasi yang kuat untuk menentangnya dan kemudian menolaknya.
Itulah pentingnya
memahami suatu teori. Dengan kita dapat memahami teori tersebut, maka dapat
pula diemparkan kritik terhadapnya jika memang masih terdapat banyak kekurangan
di dalamnya. Harus diingat bahwa teori tersebut di atas adalah produk pemikiran
manusia yang berusaha menjawab rahasia pengetahuan manusia. Hal itu harus
diapresiasi tinggi olah ummat manusia.
Teori Platon sudah berusaha mengungkap makna dan sumber pengetahuan meskipun masih terbatas. begitu juga dengan para penganut teori rasional. meskipun akhirnya jatuh pada keraguan tentang pengetahuan mereka. tidak ada jawaban yang argumentatif yang dapat dipertanggungjawabkan oleh kedua penganut teori rasional tersebut.
hasil kajian falsafatuna pertemuan 1-5
Komentar
Posting Komentar